Posted on

AJARAN TAOISME

Taoisme (Tionghua: 道教 atau 道家 ) juga diejakan Daoisme, diprakarsai oleh Laozi (老子;pinyin:Lǎozǐ) sejak akhir Zaman Chunqiu. Taoisme merupakan ajaran Laozi yang berasaskan Daode Jing (道德經,pinyin:Dàodé Jīng). Pengikut Laozi yang terkenal adalah Zhuangzi (庄子) yang merupakan tokoh penulis kitab yang judul Zhuangzi.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Taoisme sebelum Dinasti Qin

Selepas Zaman Chunqiu, adalah Zaman Berperangan dimana Cina terbagi-bagi menjadi beberapa kerajaan yang berasing-asingan sehingga Shihuangdi menyatukan kesemua kerajaan dan membentuk Dinasti Qin. Sebelum Dinasti Qin, Taoisme merupakan filsafat Laozi dan Zhuangzi tetapi bukan agama. Taoisme yang mementingkan kesehatan, pernah mendiskusikan“hidup abadi” dalam konteks ajaran serta ia dijadikan dasar perkembangan menjadi dewa untuk mencapai keabadian. [1].

[sunting] Agama Dao dan Daojia

Meskipun di zaman dulu berbeda, kini agama Dao(道教) tidak dibedakan dengan Daojia(道家), kedua-duanya berarti mempunyai arti yang sama yaitu Taoisme.

Agama Dao merupakan ajaran-ajaran Laozi-Zhuangzi yang berkembang menjadi agama yang dipeluk banyak orang. Agama Dao mengandungi misteri untuk menjadi dewa, ia lebih bersifat kemanusiaan, ia berpotensi memenuhi keperluan rohaniah manusia. Dalam agama Dao, Laozi didewakan sebagai Taishanglaojun (太上老君); kitab-kitab Daode Jing dan Zhuangzi menjadi kitab suci untuk dipelajari.

Daojia adalah pusat pengkajian filsafat dalam Daode Jing dan Zhuangzi, ia tidak mengandungi misteri dan tidak mendewakan apa-apa. Daojia digolongkan kepada tiga generasi iaitu “Daojia sebelum Qin” (先秦老庄道家),”Qin-han Daojia” (秦汉黄老道家) dan ”Wei-jin Daojia” (魏晋玄学道家). Selepas Wei-jin, Daojia tidak lagi wujud secara bersendirian tetapi diresap dalam Agama Dao dan diperkenalkan sebagai Taoisme kini. [2]

[sunting] Ajaran Taoisme

Taoisme adalah berasalkan “Dao” (道) yang berarti tidak berbentuk, tidak terlihat tetapi merupakan asas atau jalan atau cara kejadian kesemua benda hidup dan benda-benda alam semesta dunia. Dao yang wujud dalam kesemua benda hidup dan kebendaan adalah De (德). Gabungan Dao dengan De diperkenalkan sebagai Taoisme merupakan asasi alamiah. Taoisme bersifat tenang, tidak berbalah, bersifat lembut seperti air, dan berabadi. Keabadian manusia adalah apabila seseorang mencapai kesedaran Dao dan akan menjadi dewa. Penganut-penganut Taoisme mempraktekan Dao untuk mencapai kesedaran Dao dan juga mendewakan.

Taoisme juga memperkenalkan teori Yinyang (阴阳), dalam Daode Jing Bab 42:

“道生一,一生二,二生三,三生万物。万物负阴而抱阳,冲气以为和”
Berarti: Dao melahirkan sesuatu, yang dilahirkan itu melahirkan Yin dan Yang, Yinyang saling bertindak balas menghasilkan tenaga atua kuasa, dengan adalah tenaga ini, hasil jutaan benda di dunia. Setiap benda dalam alam, samada hidup atau tidak, mengandungi Yinyang yang saling bertindak untuk mencapai keseimbangan.

Yin dan Yang dengan saintifiknya diterjemahkan sebagai negatif dan positif. Setiap benda adalah dualisme, terdapat positif mesti adanya negatif; tidak bernegatif dan tidak berpositif jadinya kosong, tidak ada apa-apa. Bahkan magnet, magnet kepunyaan positif dan negatif, kedua-dua sifat tidak bisa diasingkan; tanpa positif, tidak wujudnya negatif, tidak jadinya magnet.

[sunting] Lambang Yinyang

Lambang Yinyang yang paling populer adalah Lambang Xiantian Taiji (先天太極圖) atau Yinying Yu (阴阳魚) diperkenalkan oleh Lai Zhide (來知德; tahun 1525~1604). Sejarah kajian dan perkembangan Lambang Yinyang boleh dikatakan sejak awal Dinasti Song sehingga abad ke-15. Antara yang populer adalah Chentuan (陳摶) dan Chou Dunyi (周敦頤). Lambang asli adalah Lambang Wuji(無極圖) oleh Chentuan pada awal Dinasti Song, kemudiannya dimajukan oleh Chou Dunyi dan memperkenalkan Lambang Taiji (太極圖).

[sunting] Perkembangan berasaskan Taoisme

Bidang-bidang yang dikembangkan berasakan Taoisme termasuk Taiji, Qigong, bidang medis, kesehatan, ilmu kimia, musik dan sebagainya. Salah satu Kesatuan Taoisme Cina kepunyaan kumpulan kitab-kitab hasil kajian Taoisme. Kitab-kitab tersebut merangkumi ajaran asli Taoisme, peraturan Taoisme, Qigong serta kajian-kajian medis, kesehatan, ilmu kimia, musik dan lain-lain. [3]

[sunting] Cabang-cabang Taoisme

Perkembangan Taoisme selama 2000 tahun ini, terwujud beberapa cabang Taoisme. Antara cabang-cabang yang terkenal adalah:

  • Wudoumi Dao (正一盟威道 atau 五斗米道)
    • Qingshui Dao(清水道)
    • Tianxing Pai (天心派)
  • Fulu Pai (符箓派)
    • Qingwei Pai (清微派)
  • Lijia Dao (李家道)
  • Shangqing Pai (上清派)
  • Zhongxuanxie Pai (重玄学派)
  • Jingming Dao (净明道)
  • Taiyi Jiao (太一教 atau太乙道)
  • Xuan Jiao (玄教)
  • Wudang Pai (武当派)
  • Zhong Pai (中派)
  • Xi Pai (西派)
  • Danding Pai (丹鼎派 atau 金 丹 道 教, Jindan Daojiao)
  • Yujun Dao (于君道)
  • Bojia Dao (帛家道)
  • Lingbao Pai (灵宝派)
    • Donghua Pai (东华派)
  • Louguan Dao (楼观道)
  • Lushan Pai (闾山派)
  • Shengxiao Pai (神霄派)
  • Dadao Jiao (大道教 atau 真大道教)
    • Yuxian Pai (遇仙派)
  • Quanzheng Dao (全真道)
    • Nanwu Pai (南无派)
    • Longmen Pai (龙门派)
      • Pidong Zhong (碧洞宗)
  • Dong Pai (东派)

[sunting] Lihat pula

[sunting] Pranala luar

  1. Diskusi Taoisme Indonesia
  2. Pengenalan Ajaran Tao aliran Thay Shang Men
  3. Laozi dalam Shiji
  4. Pengkajian tempat lahir Laozi (老子诞生地考)
  5. Laozi dan Gunung Laozi
  6. Tokoh-tokoh Taoisme
  7. Laozi
  8. Diskusi tentang Laozi
  9. Pandangan Zhuangzi pada Kong Hu Cu
  10. Penemuan Daode Jing
  11. Rujukan
  12. Laman Laozi
  13. Budaya Taoisme
  14. Cerita semasa Laozi meninggalkan Chuguo
  15. Taoisme
  16. Asal unsur Taoisme
  17. Taoisme sebelum Dinasti Qin
  18. Pemahaman tentang Agama Dao dan Daojia
  19. Belajar Daode
  20. Kitab-kitab Taoisme
  21. Penerangan Daode Jing
  22. Lambang Yinyang
  23. Lambang Xiantian Taiji

Taoisme, Diet, Kesehatan


“…Langkah pertama penyembuhan penyakit harus dicari di dalam makanan. Hanya ketika makanan tak mampu menyembuhkan, baru dokter akan menulis resep obat.” Sun Ssu-mo

Sun Ssu-mo, yang menulis penggalan ungkapan di atas adalah tabib paling terkenal dalam sejarah DInasti Tang, yang juga bisa dikata paling terkenal sepanjang sejarah Cina. Tabib Sun Ssu-mo yang hidup tahun 590-692, merupakan sosok puncak dari semua cara tradisional penyembuhan dan pencapaian umur panjang.

Sun Ssu-mo adalah orang pertama di dunia yang mendiagnosa sekaligus mengobati gangguan pembesaran kelenjar tiroid. Baru 1.000 tahun kemudian, pakar Barat melakukan hal yang sama. Sun Ssu-mo juga orang pertama yang mendiagnosa dan mengobati beriberi, juga 1.000 tahun lebih maju dibanding dokter-dokter Eropa yang baru memperoleh gambaran tentang penyakit beriberi pada tahun 1642.

Tabib kuno Sun Ssu-mo, dan banyak lagi tabib lain di Cina, sungguh unggul dalam bidang kesehatan dan pengobatan, bahkan bila dibandingkan dengan dokter-dokter jenius dari Barat sekalipun. Prestasi para tabib Cina itu, sebenarnya tak terlepas dari fanatisme mereka mempelajari paham Tao. Sun Ssu-mo, misalnya, merupakan Taois terkemuka. Tao adalah jalan hidupnya. Tapi, apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan Tao itu?

Ada sesuatu yang tak berujud, namun sempurna
Yang ada sebelum langit dan bumi tercipta;
Tanpa suara, tanpa substansi,
Tak bergantung, tak berubah,
Semua terangkum, tak kenal henti.
Engkau mungkin menyebutnya ibu
Dari semua yang ada di bawah langit.
Jati dirinya, aku tak tahu pasti;
Kusebut dia dengan “Tao”

Rangkaian kata misterius itu diambil dari Tao Teh Ching, kumpulan syair yang terdiri dari 5000 kharakter yang sangat menawan tentang (ajaran) Tao. Tao Teh Ching ditulis sekitar 2500 tahun lalu, dan secara tradisional biasanya dihubungkan dengan Lao Tze, “Guru Tua”.

Renungan-renungan tajam yang ada dalam syair-syair padat ringkas indah dalam buku yang sangat memikat ini membentuk sumber kebijaksanaan hidup yang telah memberikan kesenangan, nasihat dan pencerahan bagi jutaan orang di seantero dunia.

Tak ada yang tahu pasti kapan dan siapa sebenarnya pengarang Tao Teh Ching. Tetapi, berdasarkan penelitian historis, sangat mungkin karya itu ditulis sekitar abad ke-5 sampai ke-3 SM.

Adanya seorang bernama Lao Tze dapat dibuktikan berdasarkan catatan sejarah. Catatan tentang Lao Tze yang juga terkenal dengan nama Lee Tan, Lao Tan dan Lee Er, ditemukan dalam Arsip Kerajaan pada periode yang sama dengan dugaan lahirnya karya indah itu.

Gusar karena kekacauan politik dan ketamakan yang merajalela pada waktu itu, Lao Tze yang tua berniat pergi mengasingkan diri. Saat sampai di batas negara, penjaga perbatasan mengenali sang bijak dan memohon agar sang guru mau meninggalkan sepatah-dua-kata kenangan.

Dan sepatah-kata kenangan itu adalah Tao Teh CHing. Dalam pengertian kisah historis, “tao” berarti “cara atau jalan”, “teh” artinya “kekuatan” dan “ching” sama dengan “buku”. Jadi, terjemahan judul buku Tao Teh Ching tersebut adalah “Buku tentang Cara dan KekuatanNya”.

Lao Tze bukanlah penemu ajaran Taoisme. Menurutnya, ia hanya mengungkapkan kembali dan meringkaskan cara hidup yang berlaku di Cina, 2500 tahun sebelum ia hidup di dunia, yaitu saat pemerintahan Kaisar Kuning, Huang Ti, bapak pendiri Cina. Lao Tze memuja sang Kaisar Kuning sebagai leluhur peradaban Cina dan mengakuinya sebagai orang terkemuka yang mempraktekkan cara tersebut.

Kaisar Kuning memegang takhta sekitar tahun 277 SM. Ia dipercaya sebagai orang yang menemukan rahasia kehidupan abadi di dalam saripati paduan halus pria dan wanita selama melakukan hubungan intim, serta penjelmaannya menjadi “obat mujarab” yang menghasilkan tenaga dan spirit murni. Dan, konon, Kaisar Kuning hidup sehat-bugar dengan 1200 harem yang setiap malam digaulinya menurut aturan ajaran “Tao tentang Yin dan Yang” sampai usianya mencapai 111 tahun.

Selain mempelajari ajaran “Tao tentang Yin dan Yang”, melalui percakapan dengan tiga penasihat kepala dalam hal-hal seksual–Gadis Sederhana Su Nu, Gadis Misterius Hsuan Nu, dan Gadis Pelangi Tsai Nu–Kaisar Kuning juga sangat giat mempelajari pengobatan dengan ramuan tumbuh-tumbuhan, suatu bidang yang sangat dikuasai para Taoist Cina kuno. Percakapannya dengan penasihat medis Chi Po dirangkum dalam Pengobatan Tradisional Kaisar Kuning — Huang Ti Nei Ching, yang juga ditulis pada abad ke-3 SM.

Buku ini berisi uraian ringkas tentang sebagian pengetahuan medis yang dipraktekkan di Cina sejak Zaman Kaisar Kuning dan secara jelas menerapkan prinsip dasar Taoist dalam seni pengobatan Cina.

Pada masa pemerintahan Kaisar Kuning, para pakar kesehatan mulai menyusun sangat banyak kumpulan informasi yang dikemukakan para pakar Taois yang hidup selama ribuan tahun sebelumnya. Pengobatan Tradisional Kaisar Kuning–Huang Ti Nei CHing, dan Nasihat Klasik Gadis Sederhana-Ssu Nu Ching juga dikumpulkan pada masa ini.

Penulisan buku juga dilakukan oleh dua sekawan tabib Cina Chang Chung-ching dan Hua To. Buku Diskusi Seputar Demam–Shang Han-Lun, yang ditulis Chang Chung-ching sekitar tahun 200 sebelum Masehi, merupakan naskah kesehatan peninggalan CIna yang tak ternilai. Buku tersebut mengetengahkan 113 resep obat yang memanfaatkan 100-an jenis tanaman dan mineral obat, termasuk obat demam paling terkenal dan tetap populer “Sop Getah Kayu Manis” yang terbuat dari kayu manis, jahe, gula hitam, peoni dan jujuba. Chang Chung-ching juga menyusun rinci sistem diagnosa berdasarkan prinsip dasar Taois yaitu Yin-Yang, aktivitas Lima Unsur (Tanah, AIr, Api, Logam dan Kayu) serta Tiga Harta (esensi, energi dan spirit).

Taoisme mencapai puncak kejayaannya secara politis maupun sosial selama periode berkuasanya Dinasti Tang (618-907), yang dikenal sebagai ‘golden age’ kebudayaan Cina, setara semangat Renaissance di Eropa. Jangan lupa, pendiri dinasti ini memiliki nama marga Lee, marga yang sama dengan Lao Tze. Karena itu, dinasti ini mengklaim Lao Tze sebagai leluhurnya.

Tabib paling terkenal dalam sejarah Dinasti Tang, yang juga bisa dikata paling terkenal sepanjang sejarah Cina, adalah Sun Ssu-mo yang hidup tahun 590-692. Tabib Sun Ssu-mo merupakan puncak dari semua bagian cara tradisional penyembuhan dan pencapaian panjang umur Taois. Cara pendekatan yang paling disukai tabib besar ini dalam menyembuhkan penyakit adalah yang paling disukai tabib besar ini dalam menyembuhkan penyakit adalah melalui terapi nutrisi. Misalnya, Sun Ssu-mo mengamati kehidupan masyarakat terpencil, terisolasi di wilayah pegunungan tinggi, yang memiliki kecenderungan besar mengalami pembesaran kelenjar tiroid yang sekarang kita ketahui disebabkan oleh kekurangan yodium. Karena itu, ia memberi resep diet ganggang dan rumput laut serta ekstrak tiroid rusa dan anak domba. Resep ini mengisolasi penyebab gangguan dan memberi semua nutrisi yang diperlukan untuk mengobati gangguan. Sun Ssu-mo mendiagnosa dengan sangat tepat sekaligus mengobati gangguan pembesaran kelenjar tiroid ini. Hal yang sama baru ditemukan pakar kesehatan Barat 1.000 tahun setelah Sun Ssu-mo.

Sun Ssu-mo juga mendiagnosa secara tepat penyakit kurang gizi yang kita sebut sebagai beriberi. Untuk penyakit beriberi pun Sun Ssu-mo memberi resep yang pas dengan hati anak sapi dan hati domba, bibit gandum dan tanamam kaya vitamin seperti almon dan lada hutan. Sementara dokter-dokter Eropa sama sekali belum dapat memperoleh gambaran tentang beriberi sampai tahun 1642, terlambat 1.000 tahun dibanding Tabib Taois.

Sun Ssu-mo menulis 2 jilid buku yang sangat terkenal Resep Makanan Berharga–Chien-Chin-Fang yang mengetengahkan bentuk ‘pikiran emas’ tentang informasi kesehatan tradisional Taois secara teori dan praktek. Buku ini mengandung 2 pokok bahasan–satu tentang diet dan yang lain tentang seksualitas–yang secara ringkas bisa dikatakan sebagai dasar pendekatan Taois untuk mencari penyebab penyakit. Setelah menemukan penyakitnya, langkah pertama penyembuhan akan dicari di dalam makanan. Hanya ketika makanan tak mampu menyembuhkan, ia baru akan menulis resep obat.”

Tao berperan seperti jalur emas bagi lahirnya kebudayaan Cina. Prinsip dasar dari makanan Cina, misalnya, semua disusun oleh pakar kesehatan dan tanaman, bukan oleh koki atau pakar pencicip makanan. Karena itu, tak heran bila makanan Cina dicerna dengan sangat baik di dalam perut dan dengan cepat diserap tubuh. Buktinya, hanya satu jam setelah Anda makan, sudah terasa lapar lagi.

Oleh: Ignas Bethan, Buku: Feng Shui Makanan

Berikut adalah index lagu-lagu Tao yang sudah ada di STC ini. Dengan melalui index ini, kalian cukup memilih lagu dengan membuka di Tab baru, sehingga tidak perlu bolak-balik lagi.Ai Man Ren Jian – 爱漫人此间 – Penuh Kasih (Instrumen)
http://community.siutao.com/showpost…45&postcount=1

Fu Bao Bao Zi Ji – 服报保自己 – Berkah Pada Diriku (Instrumen)
http://community.siutao.com/showpost…46&postcount=1

Fu Bao Bao Zi Ji – 服报保自己 – Berkah Pada Diriku (Taoyu Surabaya)
http://community.siutao.com/showpost…71&postcount=1

Gui Ming Li – 皈 命 禮 – Abdiku (Instrumen)
http://community.siutao.com/showpost…47&postcount=1

Sou Qian Sou – 手牵手 (Bergandengan Tangan)
http://community.siutao.com/showpost.php?p=32452&postcount=1

Empat Arti TaoI. Tao sebagai Tao.

Tao () tidak berbentuk, merupakan “Sesuatu” yang sudah ada sebelum semuanya ada.

Arti Tao sulit dipahami, artinya sangat luas sehingga sulit diterangkan secara jelas dan rinci melalui sebuah kalimat atau kata-kata.

Arti Tao yang paling sederhana adalah “Jalan”. Ada juga yang mengartikannya “Kelogisan”, “Hukum”, “Pedoman” atau “Aturan”.

Tao adalah “Sesuatu” yang mendasari dan berada dibalik segala peristiwa yang terjadi di alam semesta ini.

Kenapa bumi berputar mengelilingi matahari?
Kenapa bumi mempunyai gaya gravitasi?
Kenapa oksigen dan hidrogen bisa membentuk senyawa menjadi air / H2O?
Kenapa air pada suhu 100C mendidih lalu menguap menjadi gas dan kenapa air pada suhu 0C membeku menjadi es?

Semuanya ada “Hukum”-nya, ada “Aturan”-nya, ada “Pedoman”-nya, ada “Kelogisan”-nya dan ada “Jalan”-nya. Semuanya karena Tao ().

Ikan berenang di air, tetapi tidak mengetahui adanya air.
Burung terbang menunggangi angin, tetapi tidak mengetahui adanya angin.
Manusia berada dalam Tao, tetapi tidak mengerti apa itu Tao.

II. Tao sebagai filsafat Tao.

Filsafat Tao () sangat populer, kitabnya yaitu Dao De Jing / Tao Tek Cing ( ) sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Isinya sangat padat dan sulit dipahami. Kitab tersebut adalah karya Laozi ( ), seorang Nabi Agung Tao.

Kitab ini tidak hanya digunakan oleh kaum Tao saja, tetapi ada beberapa aliran agama dan spiritual yang juga ikut mengambil manfaat dari kitab ini.

III. Tao sebagai agama Tao.

Sebagai suatu agama, Tao () merupakan agama yang tertua. Sejarah ajarannya dimulai dari Hwang Tee (Oei Tee), kurang lebih 2698SM – 2598SM, dipopulerkan dan berkembang ditangan Laozi ( ) dan diwujudkan sebagai agama oleh Zhang Dao Ling (Cang Tao Ling).

IV. Tao sebagai suatu spiritual.

Pedoman Tao () yang selalu harmonis dan seimbang sesuai dengan lambangnya Yin Yang, menjadikan spiritual Tao tidak hanya memperhatikan masalah kerohanian saja, melainkan juga keduniawian. Melatih raga dan sukma, menggabungkan ilmu pengetahuan dengan agama. Diibaratkan berjalan dengan dua kaki, tidak pincang.

Jika tidak ada langit, mana mungkin ada bintang.

Bagaimanakah caranya mempelajari Tao?

Itulah tugas anda!
Agama Tao

Oleh: Lie Ming Sen

Agama Tao () adalah agama tertua di dunia.

Merupakan agama yang berke-Tuhanan, yaitu mengakui dan menyembah adanya Thian Kung / Ie Wang Ta Ti / Yang Maha Kuasa / Tuhan.

Selain Thian Kung, masih banyak lagi Dewa-Dewi yang disembah, seperti Guan Gong / Kwan Kong ( ), Er Lang Shen ( ), Jiu Tian Xuan Nu ( ) dan lain-lain.

Nabi yang menurunkan Tao adalah Laozi ( ).

Kitab sucinya adalah Dao De Jing ( ), Tai Shang Lao Jun Zhen Jing ( ), dan lainnya.

Sedangkan upacara ritualnya sudah banyak dilakukan di kelenteng-kelenteng, terutama saat hari besar Dewa-Dewi Tao.

Sekarang agama Tao sudah tersebar ke seluruh dunia.
Sejarah Agama Tao

Oleh: DR. I Djaja L Msc.

Agama Tao merupakan Agama yang berasal dari Tiongkok. Dari data-data yang ada, maka Agama Tao termasuk agama yang tertua di dunia ini, umumnya diakui sudah ada sejak 7000 tahun yang silam, dan juga merupakan agama yang dianut oleh sebagian besar orang Tionghoa, ini tercermin dari tulisan LU XUN seorang budayawan kondang, dimana beliau menulis bahwa Agama Tao adalah agama dan akar utama dari kebudayaan Tionghoa.

Umumnya Agama Tao diyakini : Berasal dari Kaisar Kuning (Wang Di), dikembangkan oleh Lao Zi dan terorganisasi menjadi sebuah institusi Keagamaan (Agama Tao) yang lengkap oleh Zhang Tao Ling.

Agama Tao selain telah berjasa dalam menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat di Tiongkok selama beribu-ribu tahun. Juga telah memberikan banyak sumbangan terhadap kemajuan sastra, budaya, ilmu astronomi, ilmu pengobatan, filsafat dan cara berpikir masyarakat Tionghoa dimanapun mereka berada.

Pada jaman FU XI sekitar tahun 5000 SM, FU XI telah menggunakan teori dan perhitungan BA-KUA (Delapan Penjuru) untuk menjelaskan tentang sistem Astronomi, menentukan hal-hal yang penting yang berhubungan dengan ramalan kehidupan seseorang, serta menentukan cara-cara ritual penyembahan Dewa/Dewi.

Sampai pada jamannya WANG DI (Kaisar Kuning) 2698 SM, mulai dikemukakan teori tentang kaidah-kaidah alamiah dan teori tentang masalah kehidupan dan kematian. WANG DI juga merupakan tokoh yang pertama menjalankan pemerintahannya berdasarkan ajaran TAO ().

Sejak WANG DI sampai 1500 tahun berikutnya, setiap pemimpin yang menggantikan pemimpin lainnya selalu memerintah masyarakatnya dengan teori ajaran WANG DI, antara lain : Menghormati TIAN dan menjunjung tinggi Sopan-santun dalam bermasyarakat (WANG DI ZHI TAO / Filsafat ajaran WANG DI).

Pada jaman Dinasti Kerajaan Chow, muncul seorang bijaksana yang mempunyai nama besar yaitu LAO ZI. Beliau pernah bertugas sebagai pejabat yang menjaga dan merawat perpustakaan buku-buku yang dimiliki kerajaan Chow. Karena itu beliau mempunyai kesempatan untuk membaca semua buku-buku dan menguasai teori-teori yang diajarkan oleh WANG DI.

Ini membuat beliau sangat menyanjung keagungan alam yang telah menghidupi semua makhluk hidup, termasuk manusia, namun beliau juga mengajarkan bahwa dibalik semuanya itu pasti ada yang menciptakannya yang bersifat maha Agung; maha Mulia dan maha Esa, hanya saja sulit bagi beliau untuk memberikan sebutan atau nama yang tepat bagi Pencipta Alam Semesta yang maha Besar ini.

Akhirnya LAO ZI meminjam kata “TAO” (), untuk memberi nama bagi “SUMBER” dari segala sesuatu yang tercipta di alam semesta ini. Menurut LAO ZI; TAO adalah sumber terciptanya segala sesuatu yang ada dalam alam semesta ini. Cara berpikir beliau jauh melampaui jamannya ketika itu, ditambah ajaran-ajarannya yang menjunjung tinggi kebajikan dan menentang kebiadaban, maka akhirnya ajaran LAO ZI bersama-sama ajaran WANG DI dikenal orang sebagai Ajaran WANG-LAO (WANG-LAO TAO / Filsafat ajaran Wang Di dan Lao Zi) sampai sekarang.

Ajaran Wang-Lao (Wang-Lao Tao) ini makin berkembang dan mengakar di hati masyarakat, akhirnya dianut oleh hampir setiap orang terpelajar dan cendekiawan jaman itu, salah satunya adalah CHUANG ZI.

Pemujaan terhadap LAO ZI sudah dimulai sejak jaman Dinasti JIN HAN, saat itu kegiatan keagamaan dan upacara ritual keagamaan sudah berkembang sedemikian lengkapnya. Pada jaman Han Barat, masyarakat hidup makmur dan sentosa berkat semua pemimpin kerajaan menganut dan menjalankan ajaran WANG-LAO TAO.

Sampailah pada jaman Han Timur (Tong Han), ada seorang bernama Zhang Tao Ling yang dengan sungguh-sungguh mempelajari semua ajaran TAO dan ilmu keDewaan, beliau juga berhasil membuat pemilahan-pemilahan dan menyusun peraturan-peraturan tentang cara-cara upacara ke Agamaan TAO, mengajarkan cara-cara bagaimana seharusnya menggambar HU dan menuliskannya dalam buku-buku yang baku untuk kepentingan pengajaran kepada pengikut-penganutnya.

Sehingga terbentuklah sebuah organisasi kemasyarakatan yang berbasis Agama TAO yang pertama sejak itu. Selanjutnya semua kegiatan keagamaannya selalu secara resmi menggunakan nama AGAMA TAO. Pengikut-pengikutnya disebut sebagai umat TAO (TAO SHI).

Zhang Tao Ling juga menggunakan nama lain, selain Agama Tao, yaitu Thian Zhi TAO dan terutama aktif di daerah Si Chuan, penerusnya juga menyebarkan agama TAO di daerah Jiang Si di daerah Long Hu San / Gunung Naga Harimau, sebelah selatan dari sungai Zhang Jiang.

Sejak itu Agama TAO selalu mengajarkan umatnya untuk memupuk dan mempunyai sifat-sifat yang Jujur, Tulus dan Welas Asih, serta tidak boleh menyakiti orang lain.

Orang kalau sakit atau bersalah, bila ingin sembuh dan minta pertolongan di dalam Agama TAO, maka diharuskan pertama kali untuk mengakui kesalahannya atau perbuatan tidak baiknya, baru kemudian diberi pengobatan ataupun nasehat bahkan diajak Semedi dan mawas diri untuk kesembuhan dirinya.

Agama TAO terutama mengajarkan sifat Qing Jing Wu Wei, suatu sifat dimana orang dianjurkan untuk selalu berusaha berbuat sesuatu demi kepentingan bersama, namun tetap menjaga sikap mental yang tulus tanpa pamrih!, selain itu juga selalu mawas diri dalam usahanya mengajak masyarakat supaya mampu menjaga keharmonisan kehidupan masing-masing. Sifat demikianlah yang antara lain ikut mendorong terbangunnya klenteng-klenteng yang bisa dipakai untuk menginap bagi orang-orang yang sedang bepergian jauh, serta menyediakan makanan cuma-cuma bagi yang menginap di sana, ini semua bertujuan untuk melayani dan memudahkan masyarakat pada jamannya, sehingga sangat mendapat dukungan dari segala lapisan masyarakat.

Pada jaman Dinasti DHANG, Agama TAO berkembang pesat sekali, sehingga raja pun menetapkan adanya pejabat khusus setingkat Menteri untuk mengurusi semua persoalan yang berhubungan dengan Tao Kuan dan Klenteng-klenteng yang ada pada saat itu.

Selain itu juga setiap tahun diadakan semacam ujian untuk mengangkat orang-orang yang ahli dalam pengetahuan tentang Tao (Istilahnya XIAN SIEK POK SHI = Profesor Keagamaan dalam Agama Tao), sebagai penasehat resmi kerajaan.

Keadaan ini berkembang terus sampai jaman Dinasti SONG, umumnya raja-raja dan keluarga raja semuanya menganut Agama Tao, sehingga boleh dikatakan merupakan jaman keemasan bagi Agama TAO saat itu. Sejarah mencatat bahwa jaman Dinasti DHANG dan Dinasti SONG, banyak menghasilkan Tao Shi (Pendeta / Ahli Agama TAO) yang sangat bijaksana dan mumpuni, dimana cerita mereka itu banyak bisa dijumpai dalam buku-buku yang menulis tentang Agama TAO.

Pada jaman Dinasti CIN, di Tiongkok utara lahirlah 3 aliran Agama TAO yang baru yaitu : Aliran QUAN ZHEN; Aliran ZHEN DA; Aliran DAI YI. Diantara 3 aliran itu, QUAN ZHEN TAO JIAO (Agama TAO aliran QUAN ZHEN) berkembang paling pesat dan mempunyai pengaruh yang sangat luas.

Dari QUAN ZHEN TAO JIAO lah muncul seorang tokoh yang bernama JIU JU CIE, beliaulah yang pada jaman Dinasti YUAN, berhasil mempengaruhi dan mengajak Raja YUAN yaitu JENGIS KHAN, untuk menerima dan percaya kepada ajaran Agama TAO.

Pada akhir jaman Dinasti YUAN, popularitas Agama TAO mulai menurun di kalangan keluarga kerajaan, sehingga terjadilah peristiwa pembakaran buku-buku Agama TAO, hal ini tentu sangat merugikan citra dan menimbulkan kemarahan umat Agama TAO dikemudian hari.

Keadaan ini dimanfaatkan oleh CU YUAN CHANG untuk bisa segera memperoleh dukungan masyarakat dalam usahanya manggulingkan Dinasti YUAN dan mendirikan Dinasti MING.

Setelah CU YUAN CHANG berhasil memanfaatkan umat Agama TAO dalam mendirikan kerajaan MING, beliau sangat mengetahui bahwa Agama TAO sangat menjunjung tinggi sifat Kebajikan dan Kebebasan serta sangat Anti Kediktatoran (karena kediktatoran sangat bertentangan dengan sifat alamiah), hal ini sangat ditakuti oleh CU YUAN CHANG, sebab beliau sebetulnya lebih suka menjalankan kekuasaannya secara Tirani.

Maka di depan umum Cu Yuan Chang kelihatan sangat mendukung berkembangnya Agama TAO, namun secara diam-diam beliau berusaha melakukan segala cara untuk menekan Agama TAO, ini terbukti karena Cu Yuan Chang akhirnya hanya mengijinkan Agama TAO untuk menyebarkan ajaran tentang cara-cara / upacara menyembah Dewa / Dewi serta cerita-cerita tentang Ilmu pengetahuan KeDewaan, tapi sama sekali dilarang untuk mengajarkan filsafat dan ilmu pengetahuan dari Agama TAO yang lebih dalam. Hal ini tentu sangat memukul perkembangan Agama TAO, dan memicu berkembangnya dampak negatif bagi citra Agama TAO dikemudian hari.

Ketika kerajaan MAN QING menjajah Tiongkok dan mendirikan Kerajaan QING, sebagai penjajah mereka sangat takut terhadap ajaran Agama TAO yang sangat bersifat Kerakyatan dan menjunjung Kebijakan dan Kebebasan serta anti Kediktatoran.

Sehingga mereka juga melarang usaha penyebaran ajaran filsafat dan ilmu pengetahuan Agama TAO yang sebenarnya, namun sengaja membiarkan orang-orang yang mengatasnamakan Agama TAO untuk menonjolkan Ketahyulan, berkeliaran utnuk menyebarkan kesesatan diantara anggota masyarakat dengan tujuan memfitnah Agama TAO, orang yang demikian itu biasanya disebut Wu Bo (Dukun Perempuan) ataupun Shen Han (Dukun Pria).

Karenanya sejak itu, citra Agama TAO menjadi sangat jelek dan ketinggalan jaman, dampaknya terasa sampai kurun waktu yang lama sekali, sekarang ini masih ada sebagian orang terpelajar, yang karena belum mengerti apa sebenarnya Agama TAO, dengan mudahnya meremehkan AgamaTAO sebagai Agama yang bersifat tahyul dan ketinggalan jaman, sebab pada dasarnya mereka belum bisa membedakan antara Tao Shi dengan dukun.

Syukurlah sesuai dengan kemajuan jaman, akhir-akhir ini semua sudah mulai berubah ke arah yang positif, para umat penganut Agama TAO mulai menyadari kesalahan sikap diamnya selama ini, sehingga dimana-mana umat TAO mulai membenahi diri dan dengan gigih menyebarkan ajaran Agama TAO yang sebenarnya, walaupun masih harus menghadapi banyak kendala di lapangan.

Di luar Tiongkok dan Taiwan, ada beberapa negara yang umat Agama TAO nya sangat aktif dan berkembang antara lain: Singapore (Taoist Federation Singapore), Korea, Jepang, Philipina, Malaysia, Thailand, Vietnam, Indonesia, dll.

Lambang Agama TaoOleh: DR. I Djaja L Msc.

AGAMA TAO menggunakan BA KUA DAI CHI sebagai lambang agamanya, dimana gambar DAI CHI melambangkan matahari dan bulan, juga melambangkan Yin Yang serta melambangkan posisi Atas dan Bawah, sedangkan BA KUA melambangkan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, juga melambangkan segala arah yang berarti 4 penjuru 8 arah.

AGAMA TAO sangat menekankan ajaran teori YIN YANG, yang menunjukkan bahwa pada hakekatnya semua yang ada selalu hadir dalam bentuk berpasangan antara positif dan negatif; panas dan dingin; tinggi dan pendek; cantik dan jelek; pria dan wanita dan lain-lain secara seimbang dan alamiah.

DAI CHI juga dipakai untuk melambangkan hakekat pengertian TAO (), dimana YIN melambangkan kesan ‘TIADA’, lambang TIADA inilah yang menunjukkan sifat TAO () yang tidak berwujud; tidak bernama; maha besar sampai besarnya tidak terbatas, dan justru dengan lambang TIADA inilah mencerminkan bahwa TAO () bersifat Maha AGUNG dan Maha ESA.

Sedangkan YANG melambangkan kesan ‘ADA’, dimana dengan lambang ADA inilah menunjukkan fungsi dan karya dari TAO () yang merupakan awal dari segala yang ada di alam semesta ini, dengan demikian lambang ADA mencerminkan bahwa TAO () bersifat Maha Pencipta dan Maha Kuasa.

Hasil ciptaan TAO () dalam wujud ‘ADA’ inilah, yang akan mengisi segala ruang alam semesta dan dilambangkan dalam gambar BA KUA. Disamping itu dengan adanya porsi yang seimbang antara bagian YIN dan bagian YANG dalam gambar lambang DAI CHI, maka sekaligus mencerminkan bahwa TAO () bersifat Maha Adil.
Delapan Anjuran “Yang Perlu Dipupuk”

Oleh: The Sie Bien & Lie Ming Sen

Delapan hal yang patut dilakukan dan dibina sepanjang masa adalah:

  1. Banyak mendengarkan Tao ().
    Dari seluruh pelajaran-pelajaran Tao () yang sudah diterangkan secara tidak tertulis, berapa banyak yang kita tangkap? Bukan saja hanya mendengar tetapi kita diharuskan menghayati maknanya, sehingga kita dapat maju selangkah. Dan dengan sering mendengarkan Tao () maka akan lebih cepat maju kita melangkah.
  2. Banyak membaca buku.
    Banyak sekali buku yang dapat kita baca, namun yang terpenting adalah mengetahui isi dan makna dari buku tersebut. Dengan sering membaca buku maka dengan sendirinya banyak memiliki pengalaman-pengalaman. Tanamkan banyak membaca.
  3. Banyak berdiskusi.
    Dengan semakin banyak kita memperoleh pengetahuan-pengetahuan baik yang kita dapat dari membaca maupun mendengar, maka kita juga dianjurkan sering mengadakan diskusi. Dengan demikian kita mempunyai pandangan-pandangan yang lebih jauh terhadap apa yang telah kita peroleh. Dalam berdiskusi kita dituntut untuk selalu bersikap obyektif, dalam arti kita harus dapat menjelaskan pendapat kita, dan dengan berdiskusi akan sering menimbulkan ide-ide atau hal-hal baru.
  4. Banyak berlatih.
    Berlatih adalah suatu hal yang baik. Hal ini harus kita pertahankan dan jangan tidak berlatih karena alasan tidak ada waktu atau lelah karena seharian bekerja. Padahal kalau kita rajin berlatih akan dapat menghilangkan lelah dan dapat menambah semangat baru.
  5. Banyak menyerap.
    Disini diumpamakan sebuah hutan yang dapat menyerap banyak air, begitu pula diri kita sebanyak yang kita lihat atau dengar maka kita harus dapat menyerap pandangan-pandangan itu, dengan demikian dapat menambah wawasan pengetahuan, dan kepandaian.
  6. Banyak bertanya.
    Dalam kehidupan di dunia ini banyak hal yang tidak semuanya kita ketahui. Yang kita ketahui itu terbatas. Banyak bertanya akan mengakibatkan kita mengetahui lebih banyak. Gunakan kesempatan pada saat berdiskusi atau berkumpul untuk mengeluarkan pertanyaan.
  7. Menghargai keunggulan orang lain.
    Manusia itu tidak dapat menguasai semua bidang. Ada yang bisa dilakukan, ada juga yang tidak bisa dilakukan. Begitu pula dalam hal keunggulan seseorang memiliki perbedaan. Disini kita harus mengerti dan harus bisa menghargai keunggulan yang dimiliki orang lain, bukan melihat orang lain lebih unggul maka kita iri dan benci.
  8. Banyak mawas diri.
    Dengan mawas diri membuat orang tidak menjadi sombong. Orang menjadi rendah hati, lebih waspada dalam bertindak sehingga tidak sering melakukan kesalahan.

Dalam penggemblengan diri ini, kita mencoba memperbaiki keadaan sekarang agar lebih baik dari sebelumnya, dan ini perlu dilakukan terus menerus.
Delapan Anjuran “Yang Perlu Dikurangi”

Oleh: The Sie Bien & Lie Ming Sen

Delapan hal yang perlu dikurangi apabila anda menginginkan hasil yang lebih baik dalam Tao () anda, yaitu:

  1. Kurangi iri hati.
    Iri hati merupakan beban untuk diri sendiri dan biasanya akan menjadi tindakan yang merusak. Sifat ini perlu dihilangkan.
  2. Kurangi kritik.
    Banyak orang yang tidak suka dikritik, apalagi kritikan dilontarkan dimuka umum secara menyerang. Menahan diri dan mencari jalan keluar yang lebih bijaksana adalah cara untuk menggantikan kritik kepada orang lain.
  3. Kurangi menonjolkan diri.
    Menonjolkan diri akan menuju kesombongan. Seolah-olah “hanya ada aku, tidak ada kamu”.
  4. Kurangi dendam.
    Dendam juga merupakan beban diri sendiri. Apalagi diterapkan pada hal-hal kecil. Diri kita akan dikucilkan dari pergaulan, tidak memiliki teman, dan akan merusak diri sendiri.
  5. Kurangi perhitungan.
    Kalau kita dalam bertindak selalu menghitung untung rugi sampai hal-hal yang kecil, maka bagaimana kita dapat belajar Tao? Belajar Tao () memerlukan lapang dada, menyederhanakan sikap dan tindakan dalam kehidupan tetapi tetap mempunyai prinsip.
  6. Kurangi usil.
    Usil atau iseng sering kali menjadi malapetaka, menyebabkan persahabatan retak dan kehidupan menjadi tidak harmonis.
  7. Kurangi kemenangan diri.
    Pada umumnya orang masih terbelenggu dengan harta dan nama. Bila dirinya selalu ingin menang, ini berarti mencari nama dan seolah-olah dia itu yang paling hebat, maka sebenarnya dia masih dalam tahap awal belajar Tao (), yaitu “Ada aku, tidak ada kamu”.
  8. Kurangi menganggap diri paling benar.
    Biasanya kalau menganggap dirinya paling benar, berarti dirinya paling pandai, dan orang lain salah dan bodoh. Orang yang merasa dirinya paling benar atau paling pandai sebenarnya adalah orang yang paling bodoh, atau dengan kata lain disanalah letak kebodohannya dengan menonjolkan dirinya paling benar. Orang tersebut masih dalam tahap “Ada aku, tidak ada kamu”.

Dengan mengurangi sikap buruk anda sedikit demi sedikit, maka akan mengubah sikap dari “Ada aku, tidak ada kamu”, menjadi “Ada aku, baru ada kamu”, dan selanjutnya menjadi “Ada kamu, baru ada aku”.
Mengapa Ke Kelenteng?

Oleh: Leo

Dalam ajaran agama Tao (), kita menghormati Dewa-Dewi. Hal ini menyebabkan banyak berdiri kelenteng-kelenteng yang didirikan untuk memuja Dewa-Dewi.

Tujuan utama berdirinya kelenteng adalah sebagai tempat pemujaan dimana masyarakat yang percaya meletakkan patung dari Dewa-Dewi dan menghormatinya. Sebagai sarana untuk mengingat tauladannya dalam kehidupan sehari-hari. Selalu menolong sesamanya. Itulah sebenarnya tujuan utama didirikannya kelenteng.

Dewa-Dewi yang disembah antara lain:

  • Maha Dewa Tai Shang Lao Jun / Thay Sang Lauw Cin ( )
  • Er Lang Shen ( )
  • Jiu Tian Xuan Nu ( )
  • Guan Gong / Kwan Kong ( )
  • Fu De Zheng Shen / Fuk Tek Cen Sen ( )
  • Tian Shang Sheng Mu ( )
  • Xuan Tian Shang Di ( )
  • Kwang Cek Chun Wang
  • Pao Sen Ta Ti
  • Chai Sen Ye
  • Sien Thien Sang Ti (Dewa-Dewi)
  • Dan masih banyak Dewa-Dewi lainnya

Pada kehidupan sehari-hari terdapat pula orang yang ke kelenteng selain memuja, mereka juga memohon sesuatu dan ada yang dikabulkan, sehingga ini diceritakan dari satu orang ke orang lainnya dan akhirnya kelenteng dijadikan tempat meminta segala sesuatu untuk memenuhi hawa nafsu manusia, yaitu harta, nama, cinta, keberuntungan, dll. Sehingga ini menjadi suatu kebiasaan.

Dari waktu ke waktu maka inti dari pada berkunjung ke kelenteng menjadi kabur sehingga banyak orang ke kelenteng selalu mengandung maksud untuk meminta sesuatu. Bukannya hal ini tidak diperbolehkan, tetapi sebelumnya kita harus mengerti terlebih dahulu makna dari kunjungan ke kelenteng.

Kelenteng dibangun bukan hanya untuk meminta tetapi untuk beribadah, dimana saat berkunjung kita lupakan segala kesibukan dan meluangkan waktu untuk mengingat Tuhan sebagai pelindung kita dengan memberi sembah sujud kepada Dewa-Dewi yang ada di kelenteng sambil merenungkan cara hidup dan sifat-sifat mereka yang tulus dan patut kita tiru. Oleh sebab itu janganlah kalau ada perlu (susah) baru ke kelenteng, tetapi kalau lagi senang lupa dengan kelenteng.

Dengan sering ke kelenteng untuk bersembahyang, kita ingat Tuhan dan Dewa-Dewi, sehingga kalau kita hendak berbuat yang tidak baik, kita bisa mengendalikannya. Kalau kita bisa menjalankan kehidupan ini dengan baik, yaitu menghormati leluhur, orang tua dan Dewa-Dewi, maka apabila mendapat kesulitan, Dewa-Dewi dengan senang hati akan membantu.

Kita percaya bahwa jalan hidup manusia sudah diatur oleh Tuhan / Thian. Maka sebelum membantu, para Dewa-Dewi akan melihat dahulu bagaimana cara hidup kita. Makanya kita sering dianjurkan berbuat baik dan beramal.

Orang-orang yang tidak mengerti ini dari pada berkunjung ke kelenteng biasanya mempunyai iman yang tidak kuat karena hanya mengharapkan kelenteng bisa mengabulkan semua permohonan mereka. Kalau tidak maka kepercayaan mereka akan mudah luntur.
Penanggalan Yang Dipakai Dalam Agama Tao

Oleh: DR. I Djaja L Msc.

Cara perhitungan hari / penanggalan dalam kehidupan sehari-hari umat Agama TAO, umumnya menggunakan penanggalan IMLEK yang merupakan hasil karya tokoh Agama TAO yang bernama Khuang Cheng Zi sejak 2703 tahun yang lalu.

Im Lek juga disebut sebagai Tao Lek atau Huang Lek atau Wang Lek atau Nong Lek, penanggalan ini diciptakan oleh Khuang Cheng Zi berdasarkan teori astronomi Tiongkok, yang didalamnya berisi teori dan metode khusus, secara umum digunakan sebagai pedoman dalam memilih waktu yang tepat untuk bercocok tanam bagi para petani, atau memilih hari baik untuk membangun rumah; pindah rumah baru; memperbaiki rumah; berbisnis; melakukan perjalanan jauh; menikah dan sebagainya.

Sampai sekarang pun, pada umumnya penanggalan Imlek masih dipakai oleh sebagian besar masyarakat Tionghoa yang berdomisili terutama di Asia dan Asia Tenggara untuk keperluan-keperluan yang berhubungan dengan Agama dan kepercayaan masyarakat Tionghoa. Selain itu Umat TAO juga mengenal penanggalan Masehi, yang mereka sebut sebagai Yang Lek.
Pengenalan

Bagian ini dimaksudkan untuk memberikan pengenalan awal dan dapat memberikan gambaran lebih lanjut mengenai Tao ().

Silahkan menyimak.

Akhir kata, “Kejodohan” menjadikan kita bertemu Tao, kelanjutannya adalah “Wu” kita yang berperan membawa kita berhasil dalam menjalani Tao.

Ajaran & Filsafat

Ajaran & Filsafat Tao secara teoritis sudah banyak dikenal, tetapi pembahasannya banyak yang kurang tepat. Karena itulah kami mencoba untuk sedikit menyumbang buah pikiran dari para Tao Yu.

Jing Cing Wu Wei

Wu

Tao mengutamakan Wu, yang secara harafiah dapat diartikan sebagai “Kesadaran dan nalar yang tinggi”.

Wu adalah pola berpikir yang melewati pertimbangan “Hati nurani” dan “Akal sehat” dengan mempertimbangkan “Situasi”, “Kondisi”, dan “Cara” untuk menghasilkan suatu keputusan atau tindakan yang “Paling Tepat”.

Dalam Wu, suatu keputusan atau tindakan tidak hanya dilihat pada keputusan atau tindakan itu sendiri, melainkan juga mempertimbangkan pengaruh atau akibat dari keputusan atau tindakan tersebut.

Dengan daya Wu yang tinggilah akan dihasilkan suatu keputusan atau tindakan yang “Bijaksana”.

Sudah tinggikah daya Wu Anda? Mari kita kembangkan bersama!

Wu Wei ( )

Wu Wei adalah salah satu prinsip Tao () yang paling terkenal dan “hebat”. Tetapi karena pemahaman Wu Wei yang kurang tepat, banyak orang yang salah terima terhadap Tao.

Banyak orang mengira bahwa Wu Wei yang artinya “Tidak Berbuat” bermakna “diam saja” atau “pasif” dan tidak melakukan kegiatan apa pun. Padahal makna sebenarnya sangatlah dalam dan tidak sesederhana itu.

Tao “tidak berbuat” apapun, tetapi karena Nya lah segalanya “tercipta”.

Simaklah!

Xiao Yao

Xiu Xin Yang Xing [Siu Sin Yang Sing]

Ziran [Ce Ran] ( )

  • Bagaimana Sebenarnya Ziran Itu?

Kitab Suci

Dewa Dewi

Disinilah tempat untuk mengetahui lebih lanjut tentang Dewa Dewi Tao.

About these ads

About prajayuga

saya orangnya baik hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s