Posted on

Ajaran Maha Guru II

http://www.padmakumara.org/forum/download.php?id=3458

Jambhala
(dikutip dari buku “Kisah-Kasih Spiritual Bagian XIII : Wisnu Prakasa”)

Pada suatu waktu beberapa ratus tahun yang lampau, Dewi Kwan-Im menyuruh 4 dari 5 anaknya, yaitu: Ganesha, Jambhala Kuning, Jambhala Putih, dan Jambhala Hitam untuk turun ke dunia  membantu para manusia. Dan hanya Jambhala Biru, sebagai anak yang paling bungsu, harus menemani Sang Dewi di Khayangan.

Para Jambhala yang merupakan jelmaan dari Anak-anak Dewi Kwan-Im,  merupakan Bodhisatva tingkat delapan, yang mempunyai berkah rejeki yang berlimpah tanpa habis. Mendengar perintah dari Sang Dewi Kwan-Im, maka ke-empat Jambhala lalu memutuskan untuk memilih wilayah yang akan di bantunya.

Pertama dikunjunginya negara Antartika di kutub utara, dia mencoba untuk membantu suku eskimo. Setelah tinggal beberapa hari, Ganesha yang paling tertua di antara mereka, menyatakan bahwa belalainya tidak dapat diluruskan kedepan karena telah membeku.

Merasa kasihan terhadap Ganesha, Lalu para Jambhala memutuskan untuk berpindah dari Antartika, mencari tempat lainnya. Kali ini diputuskannya untuk pindah ke Afrika, maka dan mereka membangun tempat tinggal di Afrika.

Setelah beberapa minggu tinggal di Afrika, Jambhala hitam menanyakan kepada ke tiga saudaranya: “Saudara-saudaraku, mengapa rasanya kalian sengaja menahan diriku sendiri dirumah ? Saya telah bosan dirumah, karena selalu disuruh menunggu dirumah terus sendirian, sementara kalian pulang hingga larut malam.”

“Mohon maaf. Kami memang sebenarnya tidak ingin membawamu keluar karena kami sangat khawatir tidak dapat menemukan dirimu bila tersesat di luar. Mereka semua memiliki warna kulit yang mirip dengan dirimu.” kata Jambhala Putih.

“Kalau begitu lebih baik kita berpindah tempat lagi.” usul Jambhala Hitam.

Mereka semua setuju karena merasa kasihan juga akan Jambhala Hitam yang tidak dapat keluar rumah terlebih-lebih di malam hari. Maka diputuskannya untuk berpindah ke negeri paman Sam, Amerika.

“Negeri ini sangat indah dan luas, dan kulit mereka tidak sama dengan kulitku. Mari kita tinggal disini.” kata Jambhala Hitam dengan wajah berbinar-binar.

Mereka semua setuju, dan memutuskan untuk tinggal di Amerika. Setelah beberapa bulan, Jambhala Kuning mengusulkan untuk pindah kembali.

“Mengapa engkau ingin berpindah dari negeri yang indah begini? Orang-orang disini selalu menghargai hak asasi dan hukum ditegakkan dengan benar, bukankah dengan demikian mereka juga telah membina ajaran Dharma dalam kehidupan sehari-harinya ?.” tanya Jambhala Putih.

“Maaf saudaraku, hal ini bukan karena masalah Dharma tetapi masalahnya karena tikus (mongoose) kesayanganku tidak mau makan lagi. Dia telah mabuk keju karena setiap hari makanannya pasti ada kejunya. Hamburger ada kejunya, makan hotdog ada keju, makan pizza ada keju, makan sandwich ada keju, maka kentang bakar ada kejunya, sepagetti ada keju, lasagna ada keju. Sekarang dirinya takut untuk keluar, karena hidungnya menjadi sensitif setiap mencium bau keju.” Jelas Jambhala Kuning.

Merasa kasihan akan nasib binatang kesayangan Jambhala Kuning, semua memutuskan untuk berpindah tempat lagi. Diputuskannya Australia sebagai tempat barunya, dimana orang Australia masih mirip dengan orang Amerika, tetapi  makanan Australia tampak tidak selalu memakai keju, dan lebih bervariasi macam dan rasanya.

“Negeri ini sangatlah unik, dari makanan  yang rebus hingga yang di panggang, dari makanan eropa hingga makanan asia semuanya ada. Dan lagi, binatang-binatangnya juga sangat unik dan lucu.” kata Jambhala Kuning.

Setelah beberapa bulan tinggal di Australia, Jambhala Putih mengajukan usul untuk pindah dari negeri Australia. Para jambhala lainnya terkejut dan menanyakan “ Mengapa engkau berniat pindah dari negeri yang indah ini ?”

“Saudaraku, sebenarnya sayapun menyukai negeri ini. Tetapi saya merasa kasihan terhadap kodok kesayanganku. Kodokku sangat stress sekali, sehingga menolak untuk keluar bermain lagi. Anak-anak disini tidak ingin bermain dengan kodokku. Anak-anak Australia tidak pernah mengenal istilah lompat kodok, mereka hanya mengetahui lompat kangguru. Sungguh kasihan kodokku yang malang, engkau tidak mempunyai teman disini.” Jelas Jambhala Putih.

Merasa kasihan akan nasib saudaranya, mereka memutuskan untuk pergi sekalian saja ke Asia.

“Asia mempunyai banyak sekali kebudayaan yang beraneka ragam, bagaimana kalau kita membangun tempat sendiri-sendiri.” Usul Jambhala Hitam.

“Saya sangat setuju, walaupun jauh dimata tetapi dekat dihati. Selama kita berada di asia, kita semua saling bertetangga.” Kata Jambhala Kuning.

Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari tempat sendiri-sendiri sesuai dengan keinginannya, dan saling berjanji untuk bertemu kembali 5 tahun kemudian.

Lima tahun kemudian, mereka semua berkumpul kembali menepati janjinya.

“Ganesh, bagaimana keadaanmu di India ?” tanya Jambhala Kuning.

“Saya suka dengan India, karena mereka semua selalu menyanyikan lagu untukku.” Kata Ganesha yang menyukai musik.

“Bagaimana denganmu Jambhala Kuning, bukankah engkau di negeri China ?” tanya Jambhala Hitam.

“Saya sangat menyukai rumahku, rumahku dibersihkannya dua kali sehari. Mereka bahkan mengepel lantai rumahku dengan tubuhnya sendiri.” Kata Jambhala Kuning dengan bangga (maksudnya para umat melakukan total anjali dihadapannnya).

“Kalau saya menyukai negeri Tibet, karena mereka semua memakai pakaian merah. Hanya diriku, satu-satunya yang berwarna hitam. Jadi mereka mudah sekali mengenali saya walau jauh sekalipun. Saya juga menyukai keindahan gunung Himalaya, sehingga setiap minggu saya selalu berkemah di gunung Himalaya yang penuh salju. Tetapi diriku yang hitam kelam, tetap saja dapat dilihat dari kaki Gunung. Lucunya, walau saya berada di puncak gunung himalaya, atau saya telah berada di kota, mereka selalu saja memanggilku dengan meniupkan terompet yang sangat panjang dan besar. Mungkin mereka berpikir saya ini tuli kali, kok manggilnya pake terompet panjang segala.” ungkap Jambhala Hitam dengan tersenyum.

“Kalau saya menyukai negeri Hong Kong, karena saya suka sekali jalan-jalan di shopping mall.  Walau saya engga pernah belanja sekalipun, saya selalu dianggap sebagai pelanggan kehormatan disetiap toko-toko. Bahkan sekarang ini, mereka telah menyediakan tempat khusus untuk saya di setiap tokonya.” kata Jambhala Putih dengan bangga.

Demikian kisah fiktif yang saya kemukakan, kiranya cerita ini bukan bermaksud untuk merendahkan golongan tertentu. Cerita ini hanya untuk menunjukkan bahwa keunikan suatu tempat juga mempengaruhi kehidupan masyarakat tempat tersebut. Inilah membuktikan bahwa Kondisi Tempat dan Lokasi dapat mempengaruhi kehidupan seseorang. Mereka yang dapat memanfaatkan pengetahuan tentang Fung-Shui tentunya dapat menikmati kelebihan tempat tersebut.

Kiranya kita semua dapat mensyukuri keadaan lingkungan kita dan menjaganya agar selalu serasi dengan energi Alam Semesta.

Sejarah Agama Buddha Di Indonesia

Agama Buddha bagi bangsa Indonesia sebenarnya bukanlah agama baru. Ratusan Tahun yang silam agama ini pernah menjadi pandangan hidup dan kepribadian bangsa Indonesia tepatnya pada zaman kerajaan Sriwijaya, kerajaan Maratam Purba dan keprabuan Majapahit.
Candi Borobudur, salah satu warisan kebudayaan bangsa yang amat kita banggakan tidak lain cerminan dari kejayaan agama Buddha di zaman lampau.

Sekitar tahun 423 M Bhiksu Gunawarman datang ke negri Cho-Po (jawa) untuk menyebarluaskan ajaran Buddha. Ternyata ia memperoleh perlindungan dari penguasa setempat, sehingga misinya menyebar luaskan ajaran Buddha berjalan lancar. semua ini tercatat di dalambuku Gunawarman dan jika di dasarkan pada buku ini maka kemungkinan besar ia adalah seorang perintid pengembangan agama Buddha di Indonesia pada zaman tersebut.

Berdasarkan catatan dari kerajaan Tang di Tiongkok, pada pertengahan abad ke-7 di Jawa Tengah terdapat sebuah kerajaan yang menganut agama Buddha namanya Kaling. Di Tiongkok nama itu lebih dikenal dengan sebutan Ho Ling. Kerajaan ini sangatalah tertib dan tentram walaupun dipimpin oleh seorang wanita tangan besi yang bernama ratu Sima. Ho ling saat itu menjadi pusat ilmu pengetahuan agama Buddha, dan tidak sedikit orang Tionghoa dari dataran Cina datang ke negri tersebut untuk belajar agama Buddha, walaupun pada zaman dinasti Tang agama Buddha telah menjadi agama resmi di negri Cina..

Dalam abad ke-7 dan ke-8 antara India dan Cina terjalin hubungan yang ramai. Hungan tersebut tidak semata-mata di Bidang perdagangan, melainkan juga dalam ilmu pengetahuna dan agama Buddha. Antara tahun 618 hingga 907 Cina diperintah oleh Dinasti Tang, sedang di India dalam abad ke-7 berkuasa raja Harcha yang bersikap toleran terhadap agama Buddha. Maka pada zaman itu banyak musafir dan Bhiksu dari Cina yang berziarah ke tempat-tempat suci agama Buddha di India.

Dalam pertengahan abad ke-7 ini pula Sriwijaya tumbuh dan berkembang menjadi pelabuhan penting di tepi perairan Selat Malaka, urat nadi lalu-lintas penting antara India dan Cina. Selama beberapa abad, kerajaan ini memegang hegemoni lautan. Sriwijaya boleh dikatakan pusat perdagangan dan pusat agama Buddha di Asia Tenggara. Agama Buddha di zaman Sriwijaya adalah agama Buddha aliran Mahayana dengan memahami bahasa Sansekerta.

Antara tahun 850 hingga awal abad-13, kerajaan Sriwijaya diperintah oleh keluarga Syailendra yang pernah berkuasa di Mataram, Jawa Tengah, antara tahun 778-850. Selama 75 tahun berkuasa di Mataram, keluarga Syailendra banyak mendirikan bangunan suci Buddhist berupa candi seperti Candi Kalasan, Plaosan, Sari, Borobudur, Pawon dan Mendut. Sriwijaya kemudian meluaskan kekuasaannya sampai ke Muangthai Selatan yang sekarang disebut Suratani dan Pattani. Candi-candi yang dibuat oleh Sriwijaya di sana antara lain Vihara Mahadhata di Jaiya dan Vihara Mahadhata di Nakorn Sitnamart yang sampai sekarang masih ada dan bentuk bangunan, arca-arca Buddha serta Bodhisattva mirip dengan yang terdapat di Jawa.

Attisa, Bhikkhu yang sangat terkenal dari Tibet yang membangun kembali agama Buddha di negara tersebut pernah datang ke Sumatra dan tinggal di sana dari tahun 1011 – 1023. Ia belajar di bawah bimbingan Dharmakirti, seorang Bhiksu terkemuka di zaman Sriwijaya. berdasarkan catatan biografi Attisa yang di tulis di Tibet, Sumatra adalah pusat utama agama Buddha, sedang Bhiksu Dharmakirti adalah seorang cendekiawan terbesar di zaman itu.

Kedatangan para dharmaduta ke Indonesia mendorong banyak orang pergi berziarah ke India untuk mengunjungi tempat-tempat suci dan pusat-pusat agama Buddha seperti Universitas Nalanda dan lain-lain. Setelah kembali ke Indonesia mereka mendirikan candi-candi dengan berbagai bentuk dan ukuran.

Agama Buddha yang semula berkembang di Pulau Jawa dan Sumatra adalah beraliran Theravada yang dikembangkan oleh Bhiksu Gunawarman. Lambat-laun aliran ini terdesak oleh aliran-aliran lain yang masuk ke Indonesia setelah mereka mempunyai kedudukan yang kuat di India. Hal ini terlihat dengan berdirinya candi Kalasan yang dipersemabahkan untuk Dewi Arya Tara (personifikasi Prajnaparamita menurut aliran Tantrayana, salah satu sekte agama Buddha Mahayana) pada tahun 779 M. . Dari catatan epigraphic diketahui bahwa salah satu dari raja Syailendra di Jawa mempunyai guru bernama Kumaraghosa dari negri Ganda (Bengal) yang menganut faham Tantrayana. Hal tersebut mendorong berkembangnya agama Buddha Mahayana.

Kehidupan agama Buddha pada masa kerajaan Mataram – I bisa dilihat dari prasasti Conggol, sebelah Barat-daya Magelang, yang dikeluarkan oleh Raja Sanjaya. Pasasti tersebut menyebutkan bahwa pada tahun 654 Saka (732 M) hari senin tanggal 13 terang bulan Kartika, Raja Sanjaya mendirikan sebuah lingga yang merupakan lambang dari dewa Siwa yang dipuja oleh raja dan rakyatnya. Sanjaya sendiri putera Saimaha, saudara perempuan Raja Sanna yang memerintah sebelum Sanjaya.

Pada masa pemerintahan Raja Panangkaran tahun 775, dinasti Syailendra mulai berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan sehingga kekuasaan dinasti Sanjaya terdesak ke utara Jawa Tengah, yakni sekitar dataran tinggi Dieng. Di sana Sanjaya mendirikan beberapa candi, antara laincandi Bimo, Arjuno, Semar dan Argopuro.

Raja-raja yang berkuasa pada zaman dinasti Syailendra ialah Bhanu (752-775), Wisnu (775-782), Indra (782-812), Samarottungga (812-833) dan Balaputradewa (833-856). Prasasti-prasasti Syailendra ialah prasasti Kalasan pada tahun 778, dengan menggunakan huruf pranagari dan bahasa Sansekerta; prasasti Kelurak dekat Yogya tahun 782, juga memakai huruf pra-nagari dan bahasa Sansekerta; prasasti Karang Tengah dekat Temanggung pada tahun 824 dengan memakai bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno dan prasasti Kahulunan, Kedu, pada tahun 842 yang ditulis dalam bahasa dan huruf Jawa Kuno.

Selama pemerintahan Syailendra, banyak bangunan candi yang didirikan sebagaimana telah disinggung di atas. Satu diantara candi-candi yang tersohor adalah Borobudur yang didirikan pada masa Raja Samarottungga. Candi Sajiwan dan Plaosan dibangun pada masa pemerintahan suami-isteri Rakai Pikatan-Pramodawardhani (puteri Samarottungga). Nampaknya pengaruh Pramodawardhani sangat besar, sehingga yang dibangun adalah candi bercorak Buddha. Raja Rakai Pikatan sendiri beragama Siwa (Hindu). Jelas pada masa itu terdapat rasa toleransi agama yang besar.

Perkawinan Rakai Pikatan yang beragama Siwa dan Pramodawardhani yang beragama Buddha bersifat politis untuk menghadapi Balaputra yang sedang berkuasa, selain untuk mencapai kerukunan antara dua dinasti yang sedang bersaing dan bahkan saling bertentangan. Balaputra dan saudaranya, Pramodawardhani bersaing untuk menduduki jabatan Raja Mataram setelah ayah mereka, Samarottungga meninggal dunia. Balaputra berhasil naik tahta antara tahun 833 – 856, tetapi akhirnya benteng pertahanan Balaputra dirobohkan juga oleh persekutuan Rakai Pikatan Pramodawardhani, dengan demikian maka hanculah benteng terakhir dinasti Syailendra di Jawa Tengah sebelah Selatan desa Prambanan.

Sejak pemerintahan Rakai Pikatan, dan kemudian disusul oleh Rakai Kayuwangi (856-886), Rakai Watukumalang (886-898), Balitung (898-910), Daksa, Tulodong dan Wawa, pemerintahan dinasti Sanjaya semakin berkembang. Pada masa Raja Wawa, pusat kekuasaan Mataram dipindahkan ke Jawa Timur, sehingga peranan Jawa Timur selama dua abad kemudian berhasil menggantikan kedudukan Jawa Tengah.

Ada dua pendapat tentang apa sebabnya pusat pemerintahan kerajaan Mataram dipindahkan yang ditandai juga dengan perpindahan massal rakyat ke Jawa Timur. Pertama,mereka yang berpendapat perpindahan itu akibat meletusnya gunung Merapi yang banyak menimbulkan bencana dan korban. Menurut kepercayaan rakyat, meletusnya gunung Merapi menunjukkan kemarahan para dewa. Pendapat ke-dua, karena tarikan faktor ekonomi di Jawa Timur yang semakin besar, di mana perdagangan dan pelayaran laut dan sungai kian rarnai.

Babak pertama pemerintahan Mataram di Jawa Timur dipegang oleh dinasti Isana, nama yang diambil dari nama Sri Maharaja Rake Hino Sri Isana Wikramadjarmotunggadewa, gelar Mpu Sendok. Bagaimana Mpu Sendok naik tahta kurang dutetahui. Namun diduga melalui perkawinannya de putri Wawa. Dari prasasti-prasasti yang dikeluarkannya, ternyata Mpu Sendok banyak menaruh perhatian pada perdagangan dan pelayaran di kali Brantas selain pertanian. Mpu Sendok juga dikenal Raja yang memerintah dengan lebih demokratis dan menaruh minat pada soal-soal hukum serta kesusastraan· Pada masa pemerintahan Mpu Sendok-lah di

Mpu Sendok sendiri penganut agama Hindu, sehingga timbul kesan adanya toleransi agama yang sangat kuat di masa itu. Nampaknya antara agama Hindu yang dianut di Kutai, Taruma dan Mataram pada satu pihak dan agama Buddha yang dianut Sriwijaya dan Mataram (masa dinasti Syailendra) di lain pihak pernah terjadi persaingan dan perbenturan. Narnun kemudian terjadi toleransi yang diawali oleh perkawinan Rakai Pikatan dan Pramodawardhani. Hal mana dilanjutkan pada masa pemerintahan Isana dan kemudian terjadi “pembauran” antara Hindu dan Buddha sehingga batas kedua agama itu semakin kabur pada masa Singosari dan Majapahit. Pembauran kedua agama ini masih dapat disaksikan di Jawa dan Bali.

Diantara raja-raja keturunan Mpu Sendok, yang paling berhasil adalah Airlangga. la adalah seorang raja yang ditaati oleh rakyatnya yang rela menyerahkan segala milik mereka demi kepentingan pemerintahaan Airlangga. Airlangga berhasil membawa kerajaan Mataram pada puncaknya; tapi Airlangga pula yang meruntuhkan kerajaan itu.

Runtuhnya kerajaan Mataram sudah berada di ambang pintu tatkala Sanggramatunggadewi, orang kedua yang pantas menduduki tahta sesudah Airlangga, menolak jabatan besar tersebut. la lebih suka memilih hidup suci sebagai petapa di Pucangan, gunung Penanggungan, dengan nama Kili Suci. Maka, Airlangga terpaksa minta bantuan Mpu Bharada yang sakti untuk membagi kerajaannya kepada kedua putranya, Jenggala (Singasari) di bagian Timur dan Kediri di bagian Barat pada tahun 1041. Airlangga sendiri menjadi petapa pada tahun 1042 dengan nama Resi Gentayu sampai wafat pada tahun 1049 dan dimakarnkan di Tirtha, tempat permandian Jalatunda dekat desa Belahan di sebelah Timur gunung Penanggungan.

Airlangga sebagai penjelmaan Wishnu diwujudkan dalam bentuk Wishnu sedang naik seekor burung Garuda.

Kerajaan Majapahit adalah Negara Kesatuan Indonesia kedua setelah Sriwijaya yang dibangun oleh umat Buddha dan Hindu. Umat Buddha dan Hindu dalam zaman keprabuan Majapahit, berhasil mengantarkan bangsa Indonesia memasuki zaman keemasannya. Kejayaan keprabuan Majapahit dapat terwujud antara lain disebabkan karena adanya kerukunan intern umat Buddha dan kerukunan intern umat Hindu serta adanya kerukunan hidup antara umat Buddha dan umat Hindu pada zaman itu. Maharaja Hayam Wuruk dalam menjalankan pemerintahannya didampingi oleh penasehat agung dalam keagamaan yakni Dharmadhyaksa Ring Kasongatan dan golongan Buddha dan Dharmadhyaksa Ring Kasewan dari golongan Hindu. Kerukunan hidup umat beragama pada zaman Majapahit dirintis dan dipelopori oleh Pujangga Buddhis yang agung, Mpu Tantular. Dalam bait syair yang ada di dalam buku yang ditulisnya yakni kitab “SUTASOMA” pujangga besar Mpu Tantular menulis: “Siwa Buddha Bhinneka Tunggal lka Tan Hana Dharma Mangrwa”. Kalimat sakti yang dapat mempersatukan umat beragama dan rakyat Majapahit pada waktu itu, yakni Bhinneka Tunggal lka, sekarang merupakan kalimat sakti pemersatu bangsa Indonesia dan ditulis dalam lambang negara Garuda Pancasila.

Setelah keprabuan Majapahit mengalami zaman keemasan, pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dengan Maha Patihnya Gajah Mada yang beragama Buddha, akhirnya mengalami keruntuhan karena kerukunan hidup umat beragama serta persatuan kesatuan rakyat”. Majapahit tidak dapat lagi dipertahankan. Terjadinya perpecahan dan pertentangan yang tidak henti-hentinya akhirnya membawa Majapahit sirna dari muka bumi ini. Bersama dengan itu agama Buddha juga mengalami pasang surut dalam perkembangannya, kemusnahannya semakin nyata dalam zaman penjajahan Belanda. Narnun demildan, dalam zaman penjajahan Belanda pula agama Buddha mulai dipelajari dan dihayati oleh generasi muda yang terhimpun dalam Perhimpunan Theosofi Indonesia dan Sam Kauw.

Agama Buddha Dalam Zaman Penjajahan

Pada zaman penjajahan Belanda, di Indonesia hanya dikenal adanya tiga agama yakni agama Kristen Protestan, Katolik dan Islam sedangkan agama Buddha tidak disebut-sebut. Hal ini adalah salah satu sikap Pemerintah Kolonial Belanda waktu itu. Dengan demikian agama Buddha dapat dikatakan sudah sima di bumi Indonesia, tetapi secara tersirat di dalam hati nurani bangsa Indonesia, agama Buddha masih tetap terasa antara ada dan tiada.

Pada zaman pemerintahan kolonial Belanda di Jakarta didirikan Perhimpunan Theosofi oleh orang-orang Belanda terpelajar. Tujuan dari Theosofi ini mempelajari inti kebjaksanaan semua agama dan untuk menciptakan inti persaudaraan yang universal. Theosofi mengajarkan pula kebijaksanaan dari agama Buddha, di mana seluruh anggota Thesofi tanpa memandang perbedaan agama, juga mempelajari agama Buddha. Dari ceramah-ceramah dan meditasi agama Buddha yang diberikan di Loji Theosofi di Jakarta, Bandung, Medan, Yogyakarta, Surabaya dan sebagainya, agama Buddha mulai dikenal, dipelajari dan dihayati. Dari sini lahirlah penganut agama Buddha di Indonesia, yang setelah Indonesia merdeka mereka menjadi pelopor kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia.

Dalam zaman penjajahan Belanda, di Jakarta timbul pula usaha untuk melestarikan ajaran agama Buddha, Khong Hucu dan Lautse dan usaha mana kemudian lahir Organisasi Sam Kauw Hwee yang bertujuan untuk mempelajari ketiga ajaran agama dan kepercayaan tersebut. Dari sini pula kemudian lahir penganut agama Buddha, yang dalam zaman kemerdekaan agama Buddha bangkit dan berkembang.

Dalam tahun 1932 di Jakarta telah berdiri International Buddhist Mission Bagian Jawa dengan Yosias van Dienst sebagai Deputy Director Generalnya. Tahun 1934 telah diangkat A. van der Velde di Bogor dan J. W. de Wilt di Jakarta masing-masing sebagai Asistant Director yang membantu Yosias van Dienst.

Setahun sebelum berdirinya International Buddhis Mission Bagian Jawa, tepatnya tahun 1931, di Jakarta terbit majalah Mustika Dhamia yang dipimpin oleh Kwee Tek Hoay. Majalah Mustika Dharma mernuat tentang pelajaran Theosofi, tentang agama Islam, tentang sari pelajaran dan Yesus, ajaran Krisnamurti, terutama mengenai ajaran agama Buddha (Buddha Dhamia), Khonghucu dan Lautse. Majalah Mustika Dharma besar jasanya dalam menyebar luaskan kembali agama Buddha, sehingga agama Buddha mulai dikenal, dimengerti, dihayati dan diamalkan dalam kehidupan. Atas prakarsa dari Kwee Tek Hoay kemudian lahir organisasi Sam Kauw, organisasi yang mempelapori kebangkitan agama Buddha disamping Perhimpunan Theosofi Indonesia, dan Pemuda Theosofi Indonesia, setelah Indonesia Merdeka.

Naiada Thera

Tanggal 4 Maret 1934 Narada Thera menginjakkan kakinya di pelabuhan Tanjung Priok, disambut oleh Yosias van Dienst dan Tjoa Hin Hoay dan beberapa umat Buddha. Narada Thera adalah bikhhu yang pertama datang dari luar negeri setelah berselang kira-kira lima ratus tahun. Narada Thera telah memberikan ceramah agama Buddha di loji-loji Theosofi dan di Klenteng-klenteng di Bogor, Jakarta, Yogya, Solo dan Bandung. Di Candi Borobudur pada tanggal 10 Maret 1934 Narada Thera turut hadir dalam upacara penanaman pohon bodhi yang cangkokannya dibawa oleh lr. Meertenas dari Buddhagaya, India. Pohon bodhi yang telah tumbuh besar di Candi Borobudur itu kemudian dimatikan, karena merusak bangunan candi. Duta Besar Srilangka menyerahkan lagi cangkokan pohon. Pohon bodhi tersebut ditanam di kawasan luar Candi Borobudur disaksikan oleh Gubernur Supardjo Rustam. Pohon bodhi dari Duta Besar Srilangka itu adalah cangkokan dari pohon bodhi yang sampai sekarang masih tumbuh di Anuradhapura di Srilangka yang dahulu dibawa oleh Raja Mahinda ke Srilangka.

Java Buddhist Association yang telah menerbitkan majalah Namo Buddhaya dalam bahasa Belanda telah banyak menarik perhatian dan minat orang-orang Cina, yang pada waktu itu telah banyak menganut agama lain, dan telah mengganti tradisi serta adat istiadat leluhurnya dengan kebiasaan Barat. Kemudian tahun 1932 Kwee Tek Hoay membentuk Sam Kauw Hwee yang anggotanya terdiri dari penganut agama Buddha, Khonghucu dan Laocu. Sam Kauw Hwee menerbitkan majalah Sam Kauw Gwat Po dalam bahasa Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, Sam Kauw Hwee kehilangan Ketuanya dengan meninggalnya Kwee Tek Hoay tahun 1952. Sam Kauw Hwee lalu diorganisir kembali dengan masuknya beberapa organisasi kedalamnya, antara lain Tian Lie Hwee dibawah pimpinan Ong Tiang Biauw yang kemudian menjadi Bhikkhu Jinaputta. Sam Kauw Hwee kemudian menjadi Gabungan Sam Kauw Indonesia (GSKI) dengan Ketuanya yang pertama adalah The Boan An, yang sekarang dikenal sebagai Maha Sthavira Ashin Jinarakkhita Maha Thera. Dalarn tahun 1962 dibawah pimpinan Drs. Khoe Soe Khiam, GSKI dirubah namanya menjadi Gabungan Tri Dharma Indonesia dengan majalahnya bemama Tri Budaya.

Perkembangan Agama Buddha Sejak Kemerdekaan R.I.

Perhimpunan Theosofi y.ang bertujuan untuk membina persaudaraan universal melalui penghayatan pengetahuan tentang semua agama termasuk agama Buddha, telah menarik perhatian dan minat orang-orang Indonesia terpelajar. Dari mempelajari agama Buddha kemudian timbullah dorongan untuk menghayati dan mengamalkan ajaran agama Buddha. Dari sinilah bermulanya orang-orang Indonesia terpelajar mengenal agama Buddha sampai akhirnya menjadi penganut Buddha Dharma. Orang-orang Indonesia terpelajar yang kemudian menjadi umat Buddha melalui Theosofi antara lain M.S. Mangunkawatja, Ida Bagus Jelanti, The Boan An, Drs. Khoe Soe Khiam, Sadono, R.A. Parwati, Ananda Suyono, I Ketut Tangkas, Slamet Pudjono, Satyadharma, lbu Jamhir, Ny. Tjoa Hm Hoey, Oka Diputhera dan lain-lainnya. Meskipun theosofi tidak bertujuan untuk membangkitkan kembali agama Buddha narnun dari theosofi ini lahir penganut agama Buddha yang kemudian setelah Indonesia merdeka menjadi pelopor kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia. Karena itu baik Perhimpunan Theosofi Indonesia maupun Perhimpunan Pemuda Theosofi Indonesia secara tidak langsung mempunyai andil yang besar dalam kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia.

The Boan An yang menjadi pimpinan GSKI dan Perhimpunan Pemuda Theosofi Indonesia, kemudian ditahbiskan menjadi Bhikkhu di Burma dengan nama Bhikkhu Ashin Jinarakkhita. Sejak 2500 tahun Buddha Jayanti, tepatnya tahun 1956 saat kebangkitan kembali agama Buddha di bumi Indonesia, Bhikkhu Ashin Jinarakkhita-lah yang memimpin kebangkitan kembali agama Buddha ke seluruh lndonesia. Karena itu Bhikkhu Ashin Jinarakkhita dinyatakan sebagai Pelopor Kebangkitan agama Buddha secara nasional di Indonesia. Dari bhikkhu Ashin Jinarakkhita lahir tokoh-tokoh umat Buddha di Indonesia seperti Sariputra Sadono, K. Karbono, Soemantri MS, Suraji Ariakertawijaya, Oka Diputhera, I Ketut Tangkas, Ida Bagus Gin dan pimpinan Buddha lainnya yang sampai sekarang masih aktif dalam organisasi Buddhis dan ada pula di antaranya telah menjadi Bhikkhu scperti Ida Bagus Gin vane sekarang dikenal dengan nama Bhikkhu Girirakkhito.

Jadi dari Gabungan Tri Dharma Indonesia dan Perhimpunan Theosofi Indonesia serta Perhimpunan Pemuda Theosofi Indonesia lahir penganut-penganut agama Buddha yang kemudian bersama-sama dengan Bhikkhu Ashin Jinarakkhita mempelopori kebangkitan kembali agama Buddha dalam tahun kebangkitannya yakni tahun 1956. Nama-nama yang mendampingi Bhikkhu Ashin Jmarakkhita dalam mempelopori kebangkitan kembali agama Buddha dalam era 2500 tahun Buddha Jayanti tahun 1956 antara lain M.S. Mangunkawatja, Sariputra Sadono, Sasanasobhana, Sosro Utomo, I Ketut Tangkas, Ananda Suyono, R.A. Parwati, Satyadharma, lbu Jayadevi Djamhir, Pannasiri Go Eng Djan, Ida Bagus Giri, Drs. Khoe Soe Khiam, Ny. Tjoa Hin Hoey, Harsa Swabodhi, Krishnaputra, Oka Diputhera dan sebagainya.

Organisasi Buddhis yang mempersiapkan kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia adalah International Buddhis Mission Bagian Jawa dibawah pimpinan Yosias van Dienst, yang banyak mendapat bantuan dari Perhimpunan Theosofi dan Gabungan Sam Kauw.

Organisasi Buddhis yang mempelopori kebangkitan danperkembangan agama Buddha di Indonesia sejak tahun 1950-an ialah Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia (PUUI) yang diketuai oleh Sariputra Sadono, kemudian oleh Karbono, Soemantri MS, Oka Diputhera (Sek. Jen) sampai kemudian berganti nama menjadi Majelis Ulama Agama Buddha Indonesia (MUABI) yang kemudian menjadi Majelis Upasaka Pandita Agama Buddhayana Indonesia. Yang membentuk PUUI adalah Bhikkhu Ashin Jinarakkhita dalam tahun 1954, sebagai pembantunya dalam menyebarkan agama Buddha di Indonesia.

Kemudian Bhikkhu Ashin Jinarakkhita merestui berdirinya Perhimpunan Buddhis Indonesia tahun 1958 dengan Ketua Urnunanya Sariputra Sodono dan Sek. Jen. Sasana Sobhana. Kemudian Ketua Umum PERBUDHI adalah Soemantri MS dengan Sek. Jen. Oka Diputhera. Perbudhi kemudian dilebur menjadi Budhi bersama-sama dengan organisasi Buddhis lainnya.

Dalam tahun 1958 berdiri Sangha Suci Indonesia yang kemudian ganti nama menjadi Maha Sangha Indonesia. Maha Sangha Indonesia kemudian pecah melahirkan Sangha Indonesia. Dengan demikian di Indonesia terdapat dua Sangha yakiri Maha Sangha Indonesia dan Sangha Indonesia.
Maha Sangha Indonesia dipimpin oleh Bhikkhu Ashin Jinarakkhita dan Sangha Indonesia dipimpin oleh Bhikkhu Girirakkhito.

Tahun 1974 atas prakarsa Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha, Gde Pudja MA, telah diadakan perternuan antara Maha Sangha Indonesia dan Sangha Indonesia. Hasil dan perternuan tersebut melahirkan Sangha Agung Indonesia yakni gabungan dari Maha Sangha Indonesia dan Sangha Indonesia. Sebagai Maha Nyaka Sangha Agung Indonesia terpilih Sthavira. Ashin Jinarakkhita.

Kemudian setelah Kongres Umat Buddha Indonesia di Yogyakarta, di Indonesia terdapat tiga kelompok Sangha, yakni Sangha Agung Indonesia, Sangha Theravada Indonesia dan Sangha Mahayana Indonesia yang sernuanya tergabung dalam Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI).

Sangha Mahayana Indonesia dibentuk tahun 1978. Dewasa ini pengurusnya terdiri atas Bhiksu Dharmasagaro (Ketua Urnum), Bhiksu Dharmabatama (Ketua 1), Bhiksu Sakyasakti (Ketua II), Bhiksu Dutavira (Sekretaris Urnum), Bhiksu Dhyanavira (Sekretaris 1) dan Bhiksu Andhanavira (Sekretaris II). Sangha Mahayana Indonesia inilah yang, mencetuskan ide pembangunan Pusdikiat Buddha Mahayana Indonesia. Cita-cita Sangha adalah menyebarluaskan ajaran Buddha Mahayana di Indonesia dengan menggunakan bahasa Indonesia serta menterjemahkan kitab-kitab suci agama Buddha ke dalam bahasa Indonesia.

Mengingat upacara-upacara ritual agama Buddha dewasa ini urnumnya masih menggunakan aksara Mandarin, maka sejak 1982 Bhiksu Dutavira dengan tidak mengenal lelah dan dengan kemampuan terbatas yang dimikinya berusaha mengembalikan bentuk-bentuk upacara dalam aksara Sansekerta serta bahasa Indonesia. Hal ini telah diterapkan di II propinsi di Indonesia dengan memperoleh sambutan antusias sekali, khususnya dari para umat Buddha Mahayana. Apa yang dilakukan oleh Bhiksu Dutavira selama 4 tahun itu boleh dikatakan semacam merintis proyek pilot Pusdiklat Mahayana.

Kini dirasa semakin mendesak untuk meningkatkan proyek pilot tadi dalam bentuk pusdikiat modern yang serba lengkap dan yang didukung pula oleh para akhli agama Buddha baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Rencana ini telah memperoleh izin prinsip dari Departemen Agama R.I. cq. Ditjen Bimas Hindhu—Buddha.

Quoted from wihara.com

Penjelasan Catur Sarana

Pengertian Sarana adalah mencari perlindungan atau bersandar atau memperoleh penyelamatan.
Penyelamatan disini melingkupi tumimbal lahir di alam brahma / dewa, asura, manusia, binatang, hantu kelaparan dan neraka, agar terbebas dari roda samsara dan kilesa.

Seperti yang telah dijelaskan pada bagian Esoteris di perkenalan Buddha Tantrayana – esoteris depan, “Dalam esoteris, sebuah kegiatan sadhana merupakan hal yang amat sakral dan penting sehubungan dengan adanya kemungkinan pencapaian Nibbana atau tubuh ke-Buddha-an secara sekejab, dan hal pencapaian ini sangat berhubungan erat dengan keberadaan seorang guru spiritual Tantrayana yang ahli dan yang diyakini mampu untuk memberikan pertolongan dan bimbingan ajaran secara jelas kepada seorang sadhaka pemula melalui sebuah ritual pemberkatan khusus pada tahap awal memulai pelajaran esoteris (biasa disebut : inisiasi / abhiseka / anuttement / visudhi abhisecani).
Pentingnya sebuah ritual pemberkatan khusus ini didasarkan pada kepercayaan tentang adanya perbedaan tingkatan pencapaian spiritual yang dimiliki oleh seorang guru dengan seorang calon murid, yang pada umumnya tingkat spiritual seorang guru adalah dianggap “lebih menguasai dan suci” jika dibandingkan dengan tingkat spiritual seorang murid. Sehingga atas dasar inilah seorang guru dalam tradisi Tantrayana memiliki tanggung jawab maksimal untuk menyelamatkan dan menanggung seluruh karma-karma buruk yang dimiliki oleh murid tersebut.
Dikarenakan seorang guru memiliki tanggung jawab berat seperti diatas, maka perlindungan utama di dalam aliran esoteris didasarkan pada 4 (empat) mustika yaitu : berlindung kepada Guru – berlindung kepada Buddha – berlindung kepada Dharma – berlindung kepada Sangha, biasa disebut sebagai Catur Sarana.” maka di dalam aliran esoteris ini memiliki Catur Sarana yang diucapkan :
Namo Guru Bei atau Namo Ku Lu Pei
Namo Buddhaya atau Namo Pu Ta Ye
Namo Dhammaya atau Namo Ta Mo Ye
Namo Sanghaya atau Namo Seng Kia Ye

Ada orang yang berpendapat, apabila kita dapat menjaga pikiran dengan baik atau memiliki keyakinan kepada Buddha dengan menyebut nama-Nya dan bernamaskara dihadapan-Nya maka tidak perlu bersarana (berlindung) lagi. Sebenarnya yang terjadi adalah, hal tersebut hanya merupakan latihan bagian luar dari pengertian tentang Buddhisme, seandainya ingin benar-benar memahami ajaran Buddha Dharma maka harus melakukan latihan bagian dalam dengan melakukan Sarana diatas.
Terlebih-lebih lagi, aliran esoteris sangat menjunjung tinggi adanya sebuah silsilah antara seorang Guru dengan seorang murid, yang mencerminkan kemampuan bimbingan dari Guru tersebut yang telah memiliki pengalaman spiritual dengan kondisi alam semesta.

Sebenarnya, makna dari Sarana adalah “keyakinan”. Dengan adanya keyakinan seseorang baru dapat melakukan Sarana, setelah itu melaksanakan pelatihan diri menurut metode keyakinannya masing-masing dalam hal ini esoteris, sehingga baru dapat memperoleh makna Sarana yang sesungguhnya.

Semua metode Dharma bertujuan mengembangkan Upaya Kausalya (metode yang mudah dilaksanakan agar mampu menuntun para insan untuk memulai perjalanan pelatihan spiritual bagi dirinya sendiri, hal ini terkait dengan adanya 84.000 kemungkinan upaya Dharma). Perlindungan yang paling utama adalah “berlindung pada Diri Sendiri”, ini adalah metode yang dilaksanakan oleh para sadhaka / tantrika, dan setelah mampu menghancurkan avidya (kebodohan), maka akan kembali pada sifat sebenarnya dari inti sari batin dan mampu merealisasikan secara benar Tubuh Dharmakaya yang murni.

Penjelasan Abhiseka

Penjelasan Abhiseka (pemberkatan khusus / inisiasi / anuttement / visudhi abhisecani) :

Pada umumnya, Abhiseka di dalam aliran esoteris terbagi menjadi empat kategori, yaitu :

1. Abhiseka yang merupakan perkenalan awal dengan ajaran Buddha Tantrayana
2. Abhiseka tentang pelajaran Dharma
3. Abhiseka tentang pengenalan ajaran Buddha Tantrayana yang mendalam, ini berarti seseorang telah mengenal baik metode esoteris dan telah berkontak batin dengan Yidam-Nya
4. Abhiseka Vajra Acarya, yaitu seseorang yang telah dianggap mampu menyampaikan dan mentransformasikan pelajaran Buddha Dharma kepada khalayak umum
Perbedaan antara metode esoteris dan non-esoteris bukan dalam hal Abhiseka saja, tetapi juga dalam hal keberhasilan dari setiap tahap latihan. Setiap sadhaka / tantrika yang melakukan latihan esoteris harus memahami hal-hal tersebut secara mendalam.

Pengertian Abhiseka adalah sesuai dengan cara dan penggunaannya pada dahulu kala. Saat itu di India, setiap ada penobatan raja maka seorang pendeta agung kerajaan akan menggunakan air laut dari empat penjuru untuk menyirami kepala raja dari atas hingga ke bawah sebagai pernyataan rasa suka cita dan pujian dari empat penjuru lautan, yang kelak akan mengarah / menuju ke-empat lautan lagi.

Di dalam aliran esoteris, Abhiseka memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi, karena setelah menerima Abhiseka, berarti para Buddha, Bodhisattva telah berkenan mentransformasikan sesuatu kekuatan yang mempertajam kesadaran sejati seseorang umat awam sebagai siswa-Nya (dipercaya, pada saat transformasi kekuatan dilakukan, maka pada saat itu juga, umat awam tersebut akan langsung dilindungi oleh 16 mahkluk suci yang akan langsung mengelilingi dan menjaga umat awam tersebut. Adapun para mahkluk-mahkluk suci tersebut antara lain : Empat Maha Raja Langit (Virudhaka, Virupaksa, Vaisravana & Dhrtarastra), Ganapati, Deva Saha, Vajrapanibalin, Vajra Yaksa, Guhyapada, Dewa Naga dan sebagainya).

Untuk dapat melakukan sebuah Abhiseka, khususnya Abhiseka bersarana jarak jauh, hanya seorang Guru Spiritual Sejati yang telah mencapai tingkat kemahiran tertentu dalam bhavananya saja yang mampu melakukan hal-hal tersebut, karena Guru tersebut harus sudah menguasai teknik langkah-langkah gaib dan kemampuan mengasimilasi indra-indra dan sinar dari seluruh Yidam Buddha secara nyata. Kemampuan langkah-langkah gaib diperlukan agar Guru tersebut dapat mendatangi umat yang ber-Sarana dimanapun umat tersebut berada, dan kemampuan mengasimilasi indra-indra dan sinar dipergunakan untuk penguatan seluruh indra-indra umat yang ber-Sarana serta pengubahan sinar kolektif dari para Buddha dan Bodhisattva untuk memancarkan cahaya-Nya secara terfokus kepada umat yang ber-Sarana.
Bantuan visualisasi secara internal di pihak umat yang ber-Sarana mengenai arti dari warna sinar yang berbeda-beda saat Abhiseka dilakukan, antara lain:

1. Sinar Putih, untuk menghilangkan karma-karma buruk.
2. Sinar Merah, untuk cinta kasih.
3. Sinar Kuning, untuk pengumpulan kesejahteraan duniawi.
4. Sinar Biru, untuk kekuatan atau penundukkan Mara.

Ingat, semua latihan dalam esoteris harus mendapatkan Abhiseka terlebih dahulu agar proses akhir dari latihan tersebut membuahkan hasil yang diharapkan.

Quoted from wihara.com

Tahapan Pelatihan Diri Tantrika Satya Buddha

Beberapa waktu yang lalu ada seorang siswa setelah mendapatkan abhiseka Sadhana Wadyaraja Acalanatha, mulai berlatih sadhana tersebut. Tidak lama kemudian Acalanatha muncul dalam mimpinya. Saat muncul, Acalanatha tidak memberkatipun tidak memberikan sesuatu kepadanya, juga tidak memancarkan cahaya. Sebaliknya hanya melirik kepadanya kemudian membelakanginya. Apapun yang dimintanya tidak disahuti bahkan memunggunginya. Ia datang bertanya: “Apa arti dari kesemua kejadian ini?”Jawaban saya demikian : pelatihan diri dalam Tantrayana memiliki tahap-tahapan. Anda harus menapakinya setingkat demi setingkat, tidak boleh loncat kelas. Oleh karena itu bila Anda telah mendapatkan abhiseka Sadhana Amitabha, sudah berlatih Dewatayoga Amitabha(Pen Cuen Fa), sudah berlatih lama sekali namun belum juga mencapai kontak (yoga). Seyogyanya Anda mulai berpikir, mengapa Budha Amitabha tidak muncul dalam mimpi atau samadhi memberkati Anda? Atau mengapa Budha Amitabha tidak memancarkan cahaya terang, mengapa tidak muncul pertanda baik? Apakah Anda telah loncat kelas? Bila Sadhana Guruyoga belum memperoleh kontak, kemudian Anda langsung berlatih Dewatayoga Amitabha ini berarti sudah loncat kelas. Dengan demikian Anda tak akan mendapatkan kontak dari Budha Amitabha. Ini disebut “meskipun sudah memperoleh abhiseka namun belum memperoleh nimitta abhiseka (nimitta disini bisa diartikan sebagai pertanda).

Lalu apa yang harus dilakukan? Pertama, bila Anda beranggapan telah mencapai yoga dalam Sadhana Guruyoga, berlatihlah Dewatayoga. Namun Anda harus mengulangi proses abhiseka Dewatayoga. Karena ada kemungkinan dalam proses bersadhana atau dalam proses abhiseka terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan tatacara. Oleh sebab itu dalam pelatihan diri Tantra umumnya, misalnya Catur Prayoga, ada ditentukan mumlahnya. Dengan kata lain Anda harus menggenapi setia sadhana dalam Catur Prayoga sebanyak 250000 kali barulah sesuai dengan tatacara (aturan). Bila ingin menjadi Acharya, harus melakukan homa sebanyak 200 kali barulah pantas menjadi Acharya, ini adalah ketentuan Tantra Timur. Oleh karena itu boleh dikatakan semua ada tahapannya. Abhiseka tidak ada manfaatnya bila tidak memperoleh nimitta abhiseka. Yang dimaksud dengan nimitta abhiseka adalah, misalnya ada orang begitu diabhiseka langsung memperoleh nimitta abhiseka, berarti Anda hari ini di-Abhiseka, pada malam harinya, Budha Amitabha langsung menampakkan jasmaninya yang sempurna di hadapan Anda menyinari Anda, memberkati Anda. Ini berarti Anda telah memperoleh nimitta abhiseka, berarti Anda telah memenuhi syarat untuk berlatih Dewatayoga Amitabha.

Langkah selanjutnya baru boleh minta diajari Sadhana Widyaraja, kemudian Anuttarayoga Tantra. Semua ini harus tahap demi tahap. Di tempat kita, harus berlatih Catur Prayoga, setelah itu baru Guruyoga. Kalau Guruyoga sudah beres barulah Dewatayoga, kemudian Sadhana Widyaraja, lalu Anuttarayoga Tantra. Pada setiap tahap harus mencapai yoga dan menghasilkan pertanda baik baru boleh menapak ke tingkat yang lebih tinggi. Inilah ketentuan dalam Tantrayana umumnya.

Jika meskipun sudah di-Abhiseka namun tidak memperoleh nimitta abhiseka sebaiknya ulangi sekali lagi abhisekanya atau turun setingkat dan berlatih lebh lanjut. Misalnya Anda telah diabhiseka dalam Dewatayoga, namun belum juga mencapai yoga dalam waktu lama, lebih baik turun setingkat, diabhiseka lagi dalam Guruyoga atau abhiseka lagi dalam Dewatayoga, kemudian teruskan lagi latihannya dari awal. Bila belum memperoleh nimitta abhiseka dalam Catur Prayoga, tetapi meneruskan ke Guruyoga, tentu saja tidak akan memperoleh nimitta abhiseka dalam Guruyoga.

Inilah tatacara dalam Tantrayana. Terhadap tatacara demikian, dulu kita tidak perlu mematuhinya. Tetapi untuk siswa yang masuk belakangan, harus melatih diri dalam tatacara ddemikian. Ada orang berkata, melatih diri dalam Tantrayana harus membangun fondasi dalam Mahayana selama 12 tahun, fondasi dalam Tantrayana 8 tahun, seluruhnya 20 tahun barulah boleh mendapatkan abhiseka pengukuhan Acharya. Dewasa ini ada orang yang setelah memperoleh abhiseka Acalanatha langsung berlatih, tak dinyana baru semalam saja Acalanatha sudah muncul melirik sejenak laru memantatinya, hampir menghadiahi sebuah tendangan. Karena sadhaka belum mencapai yoga dalam Dewatayoga, disinilah masalahnya. Namun, jika Anda merasa amat berbakat, setelah diabhiseka dalam Sadhana Widyaraja Acalanatha, pada malam harinya langsung muncul memberkati Anda, berarti Anda telah memperoleh nimitta abhiseka, berarti Anda boleh berlatih. Jika Anda telah diabhiseka, tetapi tidak memperoleh nimitta abhiseka, berarti tidak boleh berlatih dalam sadhana ini. Anda harus tetap menekuni Dewatayoga atau turun setingkat berlatih Guruyoga. Bila dalam Guruyoga pun belum memperoleh kontak, belum muncul pertanda baik atau nimitta abhiseka, sebaiknya Anda tiap hari lakukan saja Mahanamaskara, Mahpuja, menjapa mantra Catur Sarana, melakukan Sadhana Wajrasattwa, berlatih Catur Prayoga. Bila dalam Catur Prayoga sudah benar-benar memperoleh yoga berarti ada harapan untuk mencapai pembebasan, karena Bodhisattva Wajracitta mampu membantu Anda mencapai ke-Budhaan.

Kelian lebih baik berkutut dulu di latihan dasar, jangan belum apa-apa sudah mau langsung berlatih Anuttarayoga Tantra. Tidak boleh begitu. Karena pelatihan diri adalah suatu proses. Kecuali Anda begitu diabhiseka Sadhana Widyaraja Acalanatha langsung memperoleh nimitta abhiseka, karena pada kelahiran sebelumnya telah melatihnya. Tentu saja tidak ada yang dapat dikatakan. Namun bila dalam kelahiran terdahulu Anda belum berlatih, berarti dalam kelahiran ini Anda harus melatihnya dari dasar. Tidak boleh seperti helikopter, langsung tinggal landas menuju Anuttarayoga Tantra. Oleh karena itu seyogyanya mulai menapak dari tingkat satu, tingkat dua, tingkat tiga, tingkat empat, tingkat lima, menapak secara bertahap barulah sesuai dengan tatacara sesuai dengan Dharma.

dikutip dari Files TBSN

Quoted from wihara.com by Bodhi Cahyana

Buddha Tantrayana

Agama Buddha Tantrayana sebenarnya merupakan perkembangan lanjutan dari agama Buddha Mahayana yang dianggap cukup memegang peranan penting dalam penyebarannya di wilayah India hingga ke Asia sejak awal tahun 400 Masehi. Aliran agama Buddha Tantrayana ini menekankan pada hal akhir tentang “keselamatan tertinggi / Nibbana” yang dapat dicapai melalui berbagai macam metode meditasi dan visualisasi (segi pikiran), mantera (segi ucapan) serta pembentukan mudra (segi jasmani) hasil observasi dan analisa yang mendalam dari para Guru Akar, dimana hal-hal tersebut harus dilakukan secara harmonis oleh seorang sadhaka dengan cara berusaha memahami sifat jati diri ke-Tuhan-an yang absolut dan pemanfaatan kekuatan alam semesta lewat bimbingan seorang guru spiritual Tantrayana yang ahli.

Aliran agama Buddha Tantrayana ini juga biasa disebut sebagai aliran esoteris atau aliran rahasia yang mengandung kegaiban, sedangkan aliran agama Buddha lainnya disebut sebagai aliran eksoteris atau aliran yang terbuka dan umum.
Perbedaan dasarnya adalah, bila aliran esoteris meyakini : kemampuan pencapaian Nibbana atau tubuh ke-Buddha-an dapat diraih dalam waktu sekejab di kehidupan ini lewat sadhana yang benar, sedangkan aliran eksoteris lebih meyakini : kemampuan pencapaian Nibbana atau tubuh ke-Buddha-an hanya dapat diraih dengan melewati beberapa kali kehidupan secara bertahap dan terus menerus bertumimbal lahir hingga waktu yang tepat (bisa dalam tujuh kali kehidupan atau lebih, bahkan ada yang sampai bermilyar-milyar kali kehidupan).

Menurut peraturan beberapa aliran esoteris yang melakukan disiplin keras di Tibet, seorang sadhaka baru diijinkan mempelajari agama Buddha Tantrayana setelah menguasai lebih dari 70 % dasar filsafat dan pengetahuan umum mengenai aliran eksoteris lewat ujian lisan maupun tulisan (masa pembelajaran Tri Pitaka secara umum sekitar 10 s/d 15 tahun), hal ini penting dilakukan agar tidak terjadi kesalah-pahaman penerapan ajaran agama Buddha yang membutuhkan daya pemahaman universal yang cukup rumit. Sedangkan kini, di luar Tibet, peraturan-peraturan tersebut sudah lebih disesuaikan dengan kultur dan lingkungan tempat tinggal mayoritas dari para penganutnya.

Penggunaan kata “Tantra” sendiri memiliki arti merajut atau menenun, ini merupakan sebuah istilah yang mengarah pada gabungan kondisi pikiran, ucapan, tindakan yang bersifat rahasia dan memiliki tujuan untuk berusaha memahami sifat sejati “seseorang” yang sebenarnya adalah seorang Buddha, hanya saja “seseorang” tersebut masih seorang insan calon Buddha yang belum menyadari kebijaksanaan ke-Buddha-an dalam dirinya sendiri saat ini.
Untuk itulah aliran esoteris sangat menekankan pentingnya latihan sadhana yang benar, dimulai dari :
1.) Tingkat awal / eksternal = berlatih Catur Prayoga —> Guru Yoga —> Yidam Yoga & Dharmapala
2.) Tingkat lanjutan / internal = melatih prana, nadi dan bindu —> Vajra Dharma Yoga
3.) Tingkat esoterik = Anuttara Yoga Tantra
4.) Tingkat maha esoterik = Maha Dzogchen

Dalam esoteris, sebuah kegiatan sadhana merupakan hal yang amat sakral dan penting sehubungan dengan adanya kemungkinan pencapaian Nibbana atau tubuh ke-Buddha-an secara sekejab, dan hal pencapaian ini sangat berhubungan erat dengan keberadaan seorang guru spiritual Tantrayana yang ahli dan yang diyakini mampu untuk memberikan pertolongan dan bimbingan ajaran secara jelas kepada seorang sadhaka pemula melalui sebuah ritual pemberkatan khusus pada tahap awal memulai pelajaran esoteris (biasa disebut : inisiasi / abhiseka / anuttement / visudhi abhisecani).
Pentingnya sebuah ritual pemberkatan khusus ini didasarkan pada kepercayaan tentang adanya perbedaan tingkatan pencapaian spiritual yang dimiliki oleh seorang guru dengan seorang calon murid, yang pada umumnya tingkat spiritual seorang guru adalah dianggap “lebih menguasai dan suci” jika dibandingkan dengan tingkat spiritual seorang murid. Sehingga atas dasar inilah seorang guru dalam tradisi Tantrayana memiliki tanggung jawab maksimal untuk menyelamatkan dan menanggung seluruh karma-karma buruk yang dimiliki oleh murid tersebut.
Dikarenakan seorang guru memiliki tanggung jawab berat seperti diatas, maka perlindungan utama di dalam aliran esoteris didasarkan pada 4 (empat) mustika yaitu : berlindung kepada Guru – berlindung kepada Buddha – berlindung kepada Dharma – berlindung kepada Sangha, biasa disebut sebagai Catur Sarana.

Pada masa lalu, penganut esoteris mayoritas berada di daerah Tibet, Nepal, China dan sebagian wilayah India bagian Selatan dan Barat Laut, kini seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan teknologi yang canggih, proses penyebaran agama Buddha Tantrayana menjadi semakin pesat mencapai hampir seluruh wilayah seperti Seattle – Chicago – San Francisco – California – Los Angeles – New York – Alaska – Kanada – Brasil – Australia – Inggris – Afrika – Perancis – Spanyol – Thailand – Vietnam – Jepang – Singapura – Hong Kong – China – Malaysia – Indonesia dan sebagainya.

Quoted from wihara.com

Cara Penjapaan Sutra dan Mantra

Cara-cara menjapa Sutra atau Mantera dan penggunaan Biji Tasbeh (Japamala) :

Ada banyak cara menjapa sutra atau mantera, sewaktu suara terdengar, cara ini disebut “menjapa dengan bersuara”.
Cara lain disebut sebagai “penjapaan vajra” yaitu menjapa dengan mulut tertutup namun lidah masih boleh bergerak.
Cara yang lebih halus lagi disebut sebagai “penjapaan samadhi” yaitu menjapa dengan mulut tertutup dan lidah tidak bergerak, suara hanya terdengar di dalam hati sewaktu menjapa, tidak masalah mata dalam keadaan tertutup atau terbuka saat menjapa.
Cara yang paling mendalam disebut sebagai “penjapaan sejati”, dimana kita harus memvisualisasikan huruf-huruf sutra atau mantera dengan warna dasarnya masing-masing muncul di angkasa dan kita harus mengartikannya satu per satu sehingga kita dapat membentuk huruf-huruf tersebut menjadi sebuah roda Dharma dan memutarnya.

Ada tiga alat yang mutlak digunakan oleh aliran esoteris dalam melakukan sadhana, yaitu : tasbeh 108 butir, alat vajra dan ganta.

Cara penggunaan tasbeh : sebaiknya sambil memegang tasbeh, kita harus memvisualisasikan tangan kanan memegang alat vajra, tangan kiri memegang ganta, dan ke – 108 butir tasbeh memancarkan sinar putih Vajrasattva. Lalu keempat biji tasbeh pemisah terbang ke angkasa dan menjelma menjadi Catur Maha Rajakayika (Empat Maha Raja Langit) yang melindungi kita. Lalu biji kepala tasbeh berubah menjadi tangan Buddha. Setelah itu, kita bisa memulai membaca sutra atau mantera, dimana setiap butir tasbeh yang dijapa berubah wujudnya menjadi Yidam Buddha yang sedang kita sadhanakan memberi sinar Abhiseka pada penjapa.

Sutra-sutra dan mantera yang dijunjung tinggi oleh Satya Buddha, antara lain Vaiduryaraja Avalokitesvara Sutra — Maha Karuna Dharani Sutra — Sukhavati Vyuha Dharani Sutra — Prajna Paramita Hrdaya Sutra dan Satya Buddhagama Sutra.

Quoted from wihara.com

Konsep Sadhana Anuttara Tantra

Konsep Sadhana di tingkat maha esoterik, yaitu : Maha Dzogchen bersifat sangat rahasia dan tidak boleh dijabarkan secara terbukaKonsep Sadhana Anuttara Tantra :

Tingkat Sadhana Anuttara Tantra dari Satya Buddha adalah tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata atau bahasa. Seandainya ingin dijelaskan, yaitu “Semua kesadaran telah kembali ke dalam sifat sebenarnya dan semuanya telah dapat dimanfaatkan. Semuanya bersifat kosong, sifat sebenarnya adalah terang dan Alam Dharma yang terang telah menjadi satu untuk merealisasikan kebenaran mulia yang pertama”.

Pencapaian ke-Buddha-an bermula dari “penerangan hati”, kemudian “melihat sebenarnya diri pribadi”, setelah itu membuktikan “keadaan yang sebenarnya” dan merealisasikan “Dharmakaya”, yang pada akhirnya pencapaian ke-Buddha-an bersifat “kesadaran yang sempurna”.

Quoted from wihara.com

Konsep Sadhana Vajra Dharma Yoga

Maha Guru Lu pernah berkata, “Bila seorang sadhaka Satya Buddha telah berhasil di dalam Sadhana Vajra Dharma Yoga ini, maka sadhaka tersebut akan memiliki hati dan sifat vajra serta dapat memilih salah satu Vajra agar dapat melaksanakan latihan dan penekunan Buddha Dharma. Bila sadhaka tersebut memiliki sifat Metta Karuna dan tekun di dalam latihannya, maka akan dapat menyingkirkan sifat kebencian, ke-Aku-an dan kegelapan batin”.

Latihan Vajra dari Satya Buddha memiliki latihan Sadhana Vajra dari Lima Vajra Besar. Bila saja seorang siswa Satya Buddha dapat menguasai salah satu dari lima besar Sadhana Vajra Dharma Yoga tersebut dan memperoleh hasil, maka siswa tersebut akan segera mencapai tubuh ke-Buddha-annya.
Pengertian Lima Vajra Besar adalah : manifestasi dari Maha Vairocana Buddha, Akshobya Buddha, Ratna Sambhava Buddha, Amitabha Buddha dan Amoga Siddhi Buddha. Ada juga sadhana vajra Satya Buddha lainnya yaitu seperti : Sadhana Acalanatha, Sadhana Ucchusma dan sebagainya.

Kelima Panca Dhyani Buddha termanifestasi di dalam Vajrasattva. Hal ini yang menyebabkan Sadhana Vajrasattva dimasukkan lebih awal di dalam Sadhana Catur Prayoga, agar Sadhaka pemula dapat menumbuhkan benih-benih hubungan jodohnya terlebih dahulu dengan Panca Dhyani Buddha.
Hal ini juga bertujuan untuk melindungi Tri Ratna dan menundukkan serta mengendalikan Mara, dan untuk memberikan pelajaran dan bimbingan kepada seluruh mahkluk hidup yang mempunyai makna esoteris terkait dengan Upaya Kausalya.

Maha Guru Lu juga pernah berkata, “Di dalam pelajaran Tantrayana Satya Buddha, bila seorang siswa atau sadhaka telah mencapai latihan Sadhana Vajra Dharma Yoga, maka akan memperoleh kekuatan besar untuk menundukkan dan mengendalikan semua Mara, seluruh tubuhnya akan memancarkan sinar suci yang nyata, dan semuanya akan berjalan dengan tanpa hambatan, berjalan dengan kesempurnaan. Ini semua akan memperlancar semua pelaksanaan latihan Dharma, dan sadhaka tersebut dapat memperoleh gelar Acarya tingkat pertama di dalam aliran esoteris Satya Buddha”.

Quoted from wihara.com

Konsep Sadhana Yidam Yoga

Sadhana Yidam Yoga atau Yidam Buddha atau Bodhisattva merupakan bagian pelajaran Dharma yang sangat penting dan yang harus dicapai dan dilaksanakan oleh setiap sadhaka Tantra serta selamanya tidak boleh diabaikan, karena Sadhana Yidam Yoga merupakan pengejawantahan para Buddha di sepuluh alam dari masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang yang merupakan satu kesatuan dari semua kesadaran agung.Bagi para sadhaka Satya Buddha, setelah berhasil di dalam Sadhana Guru Yoga, maka dapat memilih salah satu dari delapan Yidam Buddha Satya Buddha, sesuai dengan jodoh sang sadhaka di tahap awal Catur Prayoga atau Guru Yoga.
Delapan Yidam Buddha dalam Satya Buddha yang bisa dipertimbangkan adalah :
1. Amitabha Buddha — (upaya kausalya, kemurnian dan kebijaksanaan)
2. Bhaisajyaguru Buddha — (upaya kausalya, penderitaan duniawi)
3. Buddha_Bunda Cundi Bhagavati — (upaya kausalya, kekuatan batin)
4. Padma Kumara Bodhisattva — (upaya kausalya, kemurnian dan kebijaksanaan)
5. Avalokitesvara Bodhisattva — (upaya kausalya, daya simpati dan welas asih)
6. Ksitigarbha Bodhisattva — (upaya kausalya, keselamatan)
7. Padmasambhava — (upaya kausalya, ilmu duniawi)
8. Jambhala Kuning — (upaya kausalya, kekayaan duniawi).
Seterusnya harus sepenuh hati bersatu dengan Yidam serta merealisasikan Tiga Rahasia dari badan jasmani, pikiran dan ucapan hingga melebur dengan-Nya. Di dalam memilih Yidam Buddha harus disesuaikan dengan sifat dan keadaan batin atau jodoh serta dari cita-cita yang selaras dengan hati sadhaka yang bersangkutan.

Seorang sadhaka di dalam kehidupannya hanya boleh memilih satu dari delapan Yidam Buddha diatas, hal ini disebabkan agar dapat sepenuhnya berkonsentrasi dan penuh perhatian, sehingga dapat bersatu dan melebur dengan Yidam Buddhanya. Bila seorang sadhaka esoteris telah berhasil di dalam Sadhana Yidam Yoganya, maka sadhaka tersebut akan dapat memperoleh kontak batin dengan para Buddha atau Bodhisattva lainnya secara alamiah. Inilah yang dinamakan dengan “Bila sebuah latihan Dharma telah terlaksana, maka semua latihan Dharma akan tercapai”.

Maha Guru Lu pernah berkata, “Setelah Sadhana Yidam Yoga berhasil dicapai, maka dapat melakukan latihan Sadhana Vajra Dharma Yoga. Tetapi Sadhana Yidam Yoga harus tetap setiap hari dilaksanakan, sedangkan Sadhana Vajra Dharma Yoga atau sadhana-sadhana lainnya hanya dianggap sebagai sadhana tambahan”.

Belajar Dharma bertujuan untuk menjadi Buddha, latihan Sadhana Yidam Yoga bertujuan agar sadhaka bisa menjadi jelmaan Yidamnya, oleh karena itu latihan yang tertinggi di dalam aliran esoteris adalah, “Aku adalah Buddha”.

Quoted from wihara.com

Konsep Sadhana Guru Yoga

Sadhana Guru Yoga merupakan Sadhana Vajra Guru Yoga dari silsilah Padma Kumara Bodhisattva, karena Maha Mula Vajra Acarya dari aliran Satya Buddha adalah Maha Guru Lu, maka Beliau merupakan manifestasi dari Padma Kumara Bodhisattva.

Para sadhaka Satya Buddha pada waktu melakukan Sadhana Catur Prayoga dan telah berhasil mencapai kontak batin, maka dapat melanjutkan ke tahap latihan Sadhana Guru Yoga.

Renungan dari Sadhana Guru Yoga adalah Maha Mula Vajra Acarya bersama para Buddha dan Bodhisattva di alam Dharma Dhatu menjadi sebuah satu kesatuan makro kosmos yang berasal dari badan jasmani, pikiran dan ucapan para Buddha dan Bodhisattva serta Dharmapala di sepuluh alam dari masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang, dan Maha Mula Vajra Acarya dianggap sebagai sumber manifestasi dari 84.000 jalan Dharma.
Setelah dapat melakukan kontak batin di dalam Sadhana Guru Yoga, maka baru dapat melanjutkan ke sadhana yang berikutnya yaitu Sadhana Yidam Yoga, karena sudah bisa dipastikan tingkat pencapaian spiritual sadhaka tersebut telah dianggap layak untuk berhubungan langsung dengan Yidam Buddhanya, inilah makna terpenting dari Sadhana Guru Yoga, yaitu sebagai filter batin.

Di dalam aliran esoteris, kedudukan seorang Maha Mula Vajra Acarya sangat diagungkan. Bagi para sadhaka yang akan melakukan latihan di dalam Tantrayana harus memiliki kesungguhan hati dan keyakinan kuat untuk menghormati Maha Mula Vajra Acaryanya, karena Tantrayana sangat menitik beratkan pada kekuatan Abhiseka yang diberikan oleh Maha Mula Vajra Acarya tersebut. Seandainya para sadhaka tidak menghormati Maha Mula Vajra Acaryanya bahkan menipu atau memfitnahnya, maka semua latihan esoteris yang dilakukan setiap hari akan kehilangan kekuatannya dan menjadi tidak berguna.

Melakukan latihan di dalam Sadhana Guru Yoga yang terdiri dari visualisasi, mudra dan mantera, semua memiliki silsilah yang nyata dari para Guru Akar. Bila ketiga rahasia telah menjadi satu, maka akan muncul kekuatan dari kontak batin yang telah terjadi, dimana hal tersebut tidak bisa digantikan oleh latihan esoteris lainnya karena akan terjadi kekeliruan silsilah dan hasil yang tidak baik serta akan kehilangan kekuatan Abhiseka dari Maha Mula Vajra Acarya.

Silsilah warisan ajaran Yang Arya Maha Vajradhara Lian Sheng Rinpoche Lu Sheng Yen berasal dari :
Vairocana Tathagata -> Buddhacaksu Buddhamatrka -> Padma Kumara Bodhisattva.

Quoted from wihara.com

Konsep Sadhana Catur Prayoga

Konsep Sadhana Catur Prayoga :

Latihan Dharma Tantrayana Satya Buddha terbagi menjadi lima bagian yaitu :

1. Sadhana Empat Langkah Dasar – Catur Prayoga
2. Sadhana Guru Yoga (tahapan awal dimana mulai muncul kontak batin tertentu dengan Maha Mula Vajra Acarya, Maha Guru Lu)
3. Sadhana Yidam Yoga
4. Sadhana Vajra Dharma Yoga
5. Anuttara Tantra -> Maha Dzogchen

Empat Langkah Dasar meliputi :
1. Sadhana Maha Namaskara
2. Sadhana Catur Sarana
3. Sadhana Maha Puja
4. Sadhana Vajrasattva – Vajra Citta Bodhisattva, yang merupakan penjelmaan kemurnian Panca Dhyani Buddha

Empat Langkah Dasar atau Catur Prayoga ini merupakan latihan dasar yang menjadi pondasi utama di dalam latihan esoteris. Bagaikan sebuah bangunan kokoh yang harus memiliki dasar yang kuat, maka demikian pula Sadhana Catur Prayoga merupakan pondasi yang paling utama di dalam semua tingkatan sadhana-sadhana selanjutnya.

Ada banyak orang yang mempelajari esoteris atau Tantrayana tetapi meremehkan dan enggan memulai tahapan Sadhana Catur Prayoga. Sesungguhnya, Sadhana Catur Prayoga ini merupakan latihan dasar utama yang melatih semua aktifitas badan jasmani, pikiran dan ucapan untuk menyesali semua karma-karma buruk yang dimiliki oleh sadhaka, juga untuk menyingkirkan segala mara bahaya dan memunculkan kesejahteraan duniawi serta kebijaksanaan.

Seorang sadhaka Satya Buddha, seandainya di dalam latihan Sadhana Catur Prayoga telah memperoleh hasil, maka di dalam kehidupan yang sekarang atau yang akan datang akan memperoleh kesejahteraan duniawi atau kelahiran di alam dewa, selain itu juga dapat berhubungan batin dengan Vajra Citta Bodhisattva, sehingga saat itu sebenarnya sadhaka tersebut telah mencapai hasil dalam tingkatan Bodhisattva. Oleh karenanya, Sadhana Catur Prayoga meskipun sebuah latihan yang amat mendasar, tetapi sesungguhnya juga merupakan tingkat Anuttara Tantra pula.

Quoted from wihara.com

Agama Buddha dan Suku Dayak

Apakah suku Dayak ada yang menganut agama Buddha? Jawabnya adalah ya! Ada orang-orang dalam suku Dayak menganut ajaran Buddha. Salah satu suku pribumi Kalimantan Barat khususnya Dayak Bukit/Kandayan telah mengenal Buddhisme. Berawal dari perkenalan dengan tokoh-tokoh Buddhis Kalimanan Barat di Pontianak yakni Bapak Cipta Wijaya Salim (almarhum), Aliong, A-Buai/lbu Ratna dan Lilianti. Dari beliau-beliau inilah sekitar 2000 jiwa masyarakat Dayak secara serempak menyatakan diri sebagai penganut Agama Buddha dan menyatakan berlindung pada Sang Triratna, peristiwa ini terjadi pada tahun 1991 di Desa Senakin.

Melihat perkembangan yang begitu pesat tokoh masyarakat Dayak yang telah menyatakan berlindung pada Triratna beserta tokoh-tokoh dari Pontianak menyatakan cita-citanya untuk mempunyai tempat ibadah, sehingga dapat melaksanakan ritual-ritual Buddhis bersama seperti agama-agama lainnya. Namun, saat itu kesulitan mendapatkan tempat/lahan untuk membangun sebuah vihara disertai kurangnya dana, maka cita-cita tersebut belum dapat direalisasi. Pada tahun 1992, seorang umat Buddha merelakan rumah yang dimilikinya untuk ditempati sementara dan dialihfungsikan sebagai vihara sementara. Dengan adanya vihara di Pontianak, pada saat itu semakin meningkatkan laju perkembangan Buddha Dhamma di Pedalaman Kalimantan Barat. Pembinaan pun dirasakan sangat baik, pada saat itu ditambah lagi dengan datang tokoh Buddhis dari Jakarta yakni Romo Purna Candra dan Romo Karuna Atmaja. Cita-cita yang tadinya pernah padam hidup kembali, namun cita-cita tersebut kembali buyar oleh karena sulitnya mendapatkan lahan yang tepat untuk pembangunan Vihara.

Pada tahun 1994, pembangunan baru dapat dilaksanakan setelah mendapatkan lahan seluas 300 m2 yang berasal dari hak hibah. Pada tahun 1994 diadakan Visudhi Upasaka/Upasika oleh tiga orang Romo, yakni Romo Karuna Atmaja (alm), Romo Purna Candra (alm) dan Romo Sasana dari Jakarta yang mevisudhi Upasaka/Upasika sebanyak 200 orang, dilaksanakan sesuai tradisi Tantra (Kasogatan). Dengan berakhirnya upacara Visudhi, mulai saat inilah pembinaan dirasakan semakin kurang dan umat disana harus berdiri di kakinya sendiri. Dengan pemahaman yang masih dangkal, yang hanya diperoleh melalui diklat-diklat selama semingggu di Kotamadya Pontianak akhirnya perkembangan Buddhisme menjadi terseok-seok. Sehingga pada tahun 1996-2002 Umat Buddha di pedalaman Kalimantan Barat, setengah dari jumlah yang ada pada saat itu berpindah ke agama lain, karena mereka memiliki pemahaman yang kabur tentang agama Buddha dan juga dikarenakan teror-teror yang dilakukan oleh oknum-oknum umat agama lain yang tidak bertanggung jawab.

Ajaran-ajaran Buddha dapat diterima ditengah masyarakat Dayak, karena kedekatan ajarannya dengan budaya Dayak, yaitu kesamaan dalam tradisi untuk tidak menghilangkan kehidupan makhluk sekecil apapun yang dikenal dengan nama “Balala”. Balala dilakukan saat musim membuka ladang akan tiba. Dalam kepercayaan adat Dayak juga dikenal adanya alam-alam lain diluar alam manusia dan kepercayaan adanya kelahiran kembali setelah kematian. lstilah Tuhan dalam kepercayaan Dayak dikenal dengan nama Pamma Jubatta. Jubatta tidak menciptakan manusia. Jubatta hadir hanya mengatur dan menguasai seluruh alam dan merupakan sosok yang sempurna. Namun tidak dapat dikatakan sebagai penyebab terjadi segala sesuatu yang terjadi di dunia. Manusia dalam kepercayaan Dayak diciptakan oleh makhluk diluar dunia yang ada saat ini. Terbentuknya manusia berada di suatu tempat yaitu Panara Subayatn (Surga) yang di lakukan oleh DA’NEK NANGE. Apabila mencermati kata DA’NEK NANGE, NEK NANGE bukanlah merupakan suatu pribadi, tetapi suatu kumpulan makhluk-makhluk yang bekerja sama dalam pembentukan manusia. Jadi penciptaan manusia bukanlah oleh suatu pribadi, tetapi lebih dekat dengan hukum-hukum alam yang digambarkan melalui orang-orang atau makhluk-makhluk Adi Kodrati. Disinilah titik ketertarikan orang-orang suku Dayak untuk memeluk agama Buddha.

Quoted from kalimantanforchrist.blogspot.com with necessary changes.

About prajayuga

saya orangnya baik hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s